Minggu, 18 Desember 2016

Biografi Nasrudin Hoja

Nama : Muhammad Rafli Hakim
NIM : 72153009
Prodi/sem : Sistem Informasi 2/III
Fakultas : Sains dan Teknologi
Perguruan Tinggi : UIN Sumatera Utara
Dosen Pengampu : Dr. Ja'far MA
Mata Kuliah : Akhlak Tasawuf

Biografi Nasrudin Hoja
Nama lengkapnya merupakan syahabuddin Yahya bin Hafasi bin Amirek Suhrawadi. Ia dilahirkan pada tahun 549 H/1153 M di sebuah desa yang bernama Suharwardi dekat kota zahjan sebelah utara persia. Beliau mendapat gelar al-Maqtul. sebab ia meninggal karena dibunuh atas suruhan al-Malik al-Zahir (raja Aleppo dan Siria Utama). Keputusan pembunuhan atas dirinya diambil karena ajaran tasawufnya dipandang telah menyeleweng dari rel Islam. Julukan lain yang sering dinisbatkan kepadanya adalah Syaikh al-Isyraq (Guru Illuminasi). Suhrawardi menjalani masa studinya pada beberapa guru di beberapa tempat. Majd al-Din al-Jili adalah gurunya yang pertama, yang mengajarinya filsafat dan teologi di Maragha. Selain itu, ia diajar pula Fakhr al-Din al-Mardini (w. 594/1198), yang juga mengajar di Isfahan atau Mardin. Orang inilah yang diduga sebagai gurunya yang terpenting. Al-Mardini berada di wilayah Aleppo, sesaat Suhrawardi dieksekusi peristiwa yang telah ia prediksikan sebelumnya tetapi sejauh ini tidak diketahui apakah ia punya peran, positif atau negatif, dalam intrik yang membawa ke pengadilan dan selanjutnya pembunuhan atas Suhrawardi. Al-Mardini merupakan orang sezaman dengan Abu al-Barakat al-Bahgdadi (w. 560/1164), seorang pengikut aliran anti Aristoteles yang terkenal. Ia juga murid dari Baghdadi yang lain dan menjadi rivalnya di Baghdad. Karena hal ini dan sekian alasan lain, al-Baghdadi termasuk salah seorang dari sedikit filsuf sezaman yang disebut-sebut Suhrawardi. Baik Suhrawardi maupun al-Baghdadi dalam persoalan filsafat yang mendasar sama-sama memberi peran penting kepada intuisi dalam bangunan filsafat. Menurut Hossein Ziai, struktur karya filosofis al-Baghdadi, Evidential (al-Mu’tabar), juga terefleksi dalam karya-karya filosofis Suhrawardi. Bagi Ziai, ini membuktikan al-Baghdadi semestinya dipandang sebagai satu sumber langsung yang penting bagi banyak pendekatan non-peripatetik Suhrawardi terhadap persoalan filsafat. Al-Baghdadi, sebagaimana Suhrawardi, mengklaim bahwa magnum opus-nya, al-Mu’tabar, merupakan gubahan tentang dasar refleksi pribadi. Keduanya mengakui bahwa kepastian intuisi punya validitas yang sama dengan kepastian penalaran dan persepsi inderalah yang diterima oleh kaum Peripatetik. Guru Suhrawardi yang lain adalah Zahir al-Farsi (Nasr menyebutnya Zahiruddin al-Qari), dari tokoh ini ia belajar tentang pengamatan (al-Basha’ir). Juga belajar dari seorang ahli logika ternama, ‘Umar ibn Sahla al-Sawi (w. 540/1145), salah seorang dari filsuf yang namanya disebut-sebut oleh Suhrawardi, khususnya dalam kaitan dengan permasalahan-permasalahan tertentu logika yang rumit. Setelah menyelesaikan studinya, Suhrawardi melakukan perjalanannya ke Iran. Di sana ia menemui sejumlah syekh sufi dan sangat tertarik sebagian dari mereka. Pada kenyataannya, ia memasuki lingkaran kehidupannya melalui jalan sufi dan cukup lama berkhalwat dalam mempelajari dan menekuninya. Perjalanannya secara bertahap meluas hingga mencapai Anathole dan Suriah yang pemandangan alamnya memukau. Pernah dalam perjalanannya, ia pergi dari Damaskus ke Aleppo untuk menemui Malik Zahir, putera Salah al-Din al-Ayyubi yang terkenal. Malik yang punya kecintaan khusus kepada para sufi dan sarjana, menjadi tertarik kepada pemikir muda Suhrawardi, lalu mengundangnya untuk tinggal di istana. Suhrawardi yang sudah sangat menyukai daerah ini, dengan senang hati menerima undangan tersebut dan tinggal di istana. Akan tetapi karena caranya yang oensif dan kekurang hati-hatiannya dalam menyebarkan doktrin-doktrin esoterik dihadapan semua jenis audiens; intelegensinya yang tajam yang memungkinkannya untuk mengalahkan lawan-lawannya dalam berdebat dan kepiawaiannya baik dalam filsafat diskursif maupun sufisme, membuatnya banyak dimusuhi orang, terutama di kalangan para ulama hukum (fuqaha). Belakangan, ulama-ulama tersebut menuntut kepada Malik Zahir, agar menjatuhi hukum mati terhadap Suhrawardi karena terbukti menyebarkan doktrin-doktrin yang bertentangan dengan agama. Malik awalnya menolak. Maka mereka melanjutkan tuntutannya kepada Salah al-Din al-Ayyubi secara langsung. Pada saat itu Suriah telah terbebas dari tentara Salib, sementara dukungan ulama merupakan satu hal penting bagi kekuatan Sultan Salah al-Din. Karena desakan mereka terus menerus, akibatnya Sultan mengabulkan tuntutan mereka itu. Malik dipaksa untuk melaksanakannya. Lalu kekuasaan eksekutif keagamaan mengakhiri hidup pemikir muda yang cemerlang itu dengan memenjarakannya. Dan ketika ia meninggalkan penjara, ia wafat tanpa sebab yang dapat diterangkan sebagai penyebab langsung kematiannya pada 587/1191. Demikianlah Syaikh al-Isyraq menerima nasibnya pada usia 38 tahun, sebagaimana yang diterima pendahulunya, al-Hallaj, yang cukup menarik baginya ketika masa hidupnya, dan ia sendiri banyak mengutip ucapan-ucapan al-Hallaj dalam buku-bukunya.

Referensi : Dr. Faisar Ananda Arfa, MA , Bangun dan Hanum, 2015: 286-287

Akhlak Tasawuf: INTEGRASI DALAM SEJARAH ISLAM

IDENTITAS
            Nama                           : Muhammad Rafli Hakim
            NIM                             : 72153009
            Prodi/Sem.                   : Sistem Informasi-2 / III
            Fakultas                       : Sains dan Teknologi
            Perguruan Tinggi          : UIN Sumatera Utara
            Dosen Pengampu         : Dr. Ja’far, MA
            Matakuliah                   : Akhlak Tasawuf

TEMA                                     : Integrasi Tasawuf dan Sains
           
BUKU                                                
Identitas Buku                    : Ja’far, Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoretis dan Praktis Ajaran Kaum                                                    Sufi(Medan: Perdana Publishing, 2016)

Sub 1 : Integrasi Dalam Sejarah Islam
Dalam sejarah intelektual klasik, budaya integrasi keilmuan telah dikenal dan dikembangkan dengan canggih. Dalam sejarah islam, ditemukan seorang ahli astronomi, ahli biologi, ahli matematika, dan ahli arsitektur yang mumpuni dalam bidang ilmu-ilmu keislaman seperti tauhid, fikih, tafsir, hadis, dan tasawuf, para pemikir muslim klasik menempuh pola hidup statistic, dan kajian-kajian ilmiah mereka arahkan kepada pencapaian tujuan-tujuan religious dan spiritual.
Para filsuf dari mahzab peripaterik merupakan pemikir muslim yang berhasil mengintegrasikan filsafat yunani dengan ajaran islam yang bersumberkan kepada al-qur’an dan hadis, tidak sebatas integrasi belaka, mereka malah mampu menguasai berbagai disiplin ilmu yang terdiri atas ilmu-ilmu rasional dan ilmu-ilmu kewahyuan, sehingga integrasi menjadi sangat mudah dilakukan. Selain dari mahzab peripatetic, sejarah islam menyebutkan keberadaan para filsuf dari mahzab isyraqiyah dan mahzab hikmah al-muta’aliyah yang sukses mengintegrasikan ilmu-ilmu rasional dengan ilmu-ilmu kewahyuan. Diantara mereka adalah Suhrawardi (w.1191) yang dikenal ahli filsafat,tasawuf, dan hokum islam. Quthb al-Din al-Syirazi (w.1311) cukup dikenal sebagai ahli dalam bidang astronomi, matematika, kedokteran, fisika, music, filsafat, dan tasawuf. Dengan demikian, integrasi ilmu dalam islam bukan yang baru. Sebab, para ilmuan muslim klasik telah mengerjakan proyek keilmuan tersebut sepanjang masa keemasan islam. Paling tidak, secara akademik mereka menguasai seluruh disiplin ilmu yang berkembang pesat pada masa mereka, baik ilmu-ilmu rasional, ilmu-ilmu empiric, maupun ilmu-ilmu kewahyuan, mereka bahkan mengintegrasikan kedua jenis ilmu tersebut, dan keduanya saling mendukung kegiatan akademik mereka. Meskipun mereka seorang filsuf dan saintis, perilaku hidup mereka merupakan realisasi terhadap teori bahwa mereka sukses mengintegrasikan antara dua jenis ilmu tersebut, dan mengintegrasikan keduanya dengan keyakinan dan perilaku hidup mereka sehari-hari. (DR.Ja’far,MA.Gerbang Tasawuf.Hal 102-105-2016)

KESIMPULAN
       Dalam sejarah intelektual klasik, budaya integrasi keilmuan telah dikenal dan dikembangkan dengan sangat canggih, Sebab, para ilmuan muslim klasik telah mengerjakan proyek keilmuan tersebut sepanjang masa keemasan islam. Paling tidak, secara akademik mereka menguasai seluruh disiplin ilmu yang berkembang pesat pada masa mereka, baik ilmu-ilmu rasional, ilmu-ilmu empiric, maupun ilmu-ilmu kewahyuan.

RELEVANSI DENGAN BIDANG    :
           kita harus bersungguh-sungguh dalam belajar dan memiliki memiliki pola pikir seperti para pemikir ilmuwan muslim klasik baik dari mazhab peripatetic, mazhab isyaraqiyah maupun mazhab hikmah al-muta’aliyah yang berlandaskan alquran dan hadits, agar kelak nantinya kita bisa menjadi seperti para ilmuan muslim.yang nantinya dapat  mengintegrasikan antara dua jenis ilmu yaitu agama dan teknologi.

Minggu, 04 Desember 2016

Cinta ridha dan maqam

Identitas :
Nama                     : muhammad rafli hakim
Nim                       : 72153009
Prodi/Sem              : Sistem Informasi /III
Fakultas                 : Sains dan Teknologi
Perguruan Tinggi    : UIN Sumatera Utara
Dosen Pengampu    : Dr. Ja'far, MA

Tema :Cinta, Rida, dan Maqam
Identitas Buku :
Ja’far. Gerbang Tasawuf : (Dimensi teoretis dan praktis ajaran kaum sufi. Medan : Perdana Publishing, 2016).

Sub 1 : Cinta (Mahabbah)
Menurut Al-Ghazali, al-mahabbah adalah al-maqam sebelum rida. Kaum sufi mendasari ajaran mereka tetang cinta dengan Al-Qur’an, hadis, dan atsar. Diantara dalilnya adalah Q.S. Al-maidah/5:54;Q.S.Al-Shaff/1:4;dan Q.S. Ali Imran/3 : 31. Kata cinta disebut Al-Qur’an secara berulang kali, meskipun tidak hanya dalam makna cinta kepada Allah Swt. Sebagaimana yang dimaksudkan oleh kaum sufi. Kata hub disebut Al-Qur’an sebanyak 99 kali dalam berbagai bentuk kata, antara lain hubb dan yuhibbu, sedangkan dalam kata al-mahabbah tidak digunakan Al-Qur’an.
Dalam Q.S Al-Baqarah/2 : 165, Allah Swt. Berfirman :
“dan diantara manusia ada orang-orangg yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksa-Nya (niscaya mereka menyesal)”.(Ja’far, Gerbang Tasawuf. Hal 78. 2016)

Sub 2 : Rida (Al-Ridha)
Kata rida berasal dari kata radhiya, yardha, ridhwanan yang artinya “Senang, puas, emilih, persetujuan, memilih, menyenangkan, dan menerima.” Dalam kamus bahasa indonesia, rida adalah “rela, suka, senang hati, perkenan, dan rahmat.” Kata rida dari berbagai bentuk disebut didalam Al-Qur’an sebanyak 73 kali. Menurut Ibn Qudamah, makna rida adalah seorang hamba menyadari bahwa pengaturan Allah Swt lebih baik dari pengaturan manusia; dan rida atas penderitaan, karena dibalik penderitaan ada pahala apalagi penderitaan itu bersal dari Allah Swt. Sebagai Kekasih-Nya. (Ja’far, Gerbang Tasawuf. Hal 84. 2016)

Sub 3 : Al-Maqam
Sebagian sufi menilai bahwa setelah mencapai maqam rida, seorang salik masih dapat mencapai maqam seperti makrifat (al-ma’rifah), dan menegaskan bahwa al-ridha bukan mawam tertinggi. Al-Kalabazi mengatakan bahwa al-ridha bukan maqam tertinggi. Al-Kalabazi mengatakan bahwa sebagian sufi membagi makrifat menjadi dua, yakni al-ma’rifat haq yang berarti penegasan keesaan Allah atas sifat-sifat yang dikemukakan-Nya, dan ma’rifat haqiqah yang bermakna makrifat yang tidak bisa dicapi dengan sarana apapun, sebab sifat-Nya tidak dapat ditembus dan ketuhanan-Nya tidak dapat dipahami. Menurutnya, makrifat bermakna “hati (al-sirr) menyaksikan kekuasaan Allah Swt. (Ja’far, Gerbang Tasawuf. Hal 78. 2016)

Kesimpulan
Cinta dan Rida  merupakan bagian dari hirarki al-maqamat. Cinta  merupakan kasih sayang Allah kepada hambanya ., sedangka rida merupakan keihklasan Allah Swt dalam menerima perbuatan hambanya dan juga memilih hambanya yg patuh terhadap Nya. Dan al-maqam  (makrifah) merupakan ilmu yang mempunyai derajat tertinggi

Relevansi dengan bidang
 :
Sebagai mahasiswa saintek kita harusnya mempunyai pemikiran intelektual dan mempunyai sifat cinta (mahabbah), rida, dan mawam. Bukan hanya sekedar punya itu, tapi diantara sebaiknya kita juga harus menerapkan sifat-sifat tersebut dalam keseharian kita karena Allah sangat mencintai hambanya yg patuh kepada-Nya

Sabtu, 26 November 2016

Akhlak Tasawuf: Fakir, Sabar dan Tawakal

Nama: Muhammad Rafli Hakim
NIM: 72153009
Prodi/Sem: Sistem Informasi-2 / III
Fakultas: Sains dan Teknologi
Perguruan Tinggi: UIN Sumatera Utara
Dosen Pengampu: Dr. Ja’far, MA
Matakuliah: Akhlak Tasawuf

TEMA               : Fakir, Sabar dan Tawakal
Buku
Identitas Buku : Dr. Jaffar, MA, Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoritis dan Praktis Ajaran Kaum                   Sufi (Medan: Perdana Publishing, 2016)
           
Sub 1: Fakir (al-faqr)
            Dalam terminology Al-quran, istilah fakir berasal dari bahasa arab, faqura, yafquru, faqran yang artinya miskin. Istilah faqr bermakna kemiskinan (Jaffar: 68).  Dalam bahasa Indonesia, fakir berarti orang yang sangat berkekurangan. Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa fakir itu adalah orang yang tidak memiliki harta sama sekali. Kemudian Imam Al-Ghazali mengkasifikasikan hakikat fakir itu dan memberinya masing-masing nama ;
  • ·         Hal yang pertama, adalah jika orang itu diberi harta, orang itu tidak menyukainya dan orang itu merasa tersiksa dengan harta tersebut. Maka orang itu disebut zuhud
  • ·         Hal yang kedua, ialah orang tersebut tidak menyukai harta walaupun orang itu berhasil memperoleh harta tersebut dengan penuh kesenangan. Tapi orang tersebut tidak membenci dengan harta yang diperolhnya itu, maka ia disebut rela
  • ·         Hal yang ketiga, yaitu orang tersebut diberi harta namun tidak sampai harta tersebut menggerakkan orang itu untuk mencarinya, tapi orang itu tetap mau mengambilnya.maka sifat itu disebut qona’ah.
  • ·         Hal yang keempat, orang tersebut lemah dalam mencari harta namun ia tetap mau mencarinya walupun dengan bersusah payah, hanya karena kerakusannya. Orang ini disebut rakus harta.
  • ·         Hal yang kelima, orang tersebut tidak memiliki harta sama sekali kalaupun ada orang tersebut masih saja dibilang telanjang kalaupun memakai pakaian. Maka orang itu disebut ‘terpaksa’.


Sub 2: Sabar (al-shabr)
            Kata sabar berasal dari bahasa arab, sahabara, yashbiru, shabbran, maknanya adalah mengikat, bersabar, menahan dari larangan hokum, dan menahan diri dari kesedihan. Dalam bahasa Indonesia, sabar bermakna “tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati), dan tabah tidak tergesa gesa, dan tidak teerburu nafsu (Jaffar: 71). Allah berfirman dalam surat Al-Anfâl ayat 46:

وَاصْبِرُوْا اِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِيْنَ (الأنفال: ٤٦)

“Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”.

            Al-ghazali membagi sabar menjadi 3:
  • ·      Sabar dalam ketaatan kepada Allah swt.; Nafsu sering bertentangan dengan ketaatan, seperti rasa malas dalam shalat, sifat kikir dalam zakat, dan rasa malas serta kikir secara bersamaan, dalam haji dan jihad. Bersabar dalam taat, merupakan suatu perbuatan yang sangat berat dan sulit.
  • ·    Sabar terhadap maksiat; Bersikap sabar terhadap maksiat lebih berat dan sulit lagi, apalagi terhadap maksiat yang sudah menjadi watak kebiasaan. Sebab, pasukan yang muncul untuk menghadapi dorongan-dorongan keagamaan di sini terdiri dari dua lapisan, yaitu pasukan hawa nafsu dan pasukan watak kebiasaan.
  • ·      Sabar terhadap musibah; Seperti gangguan dari orang lain, baik itu dengan tangan atau lisan. Bersabar terhadap hal tersebut, dilakukan dengan tanpa membalas sikap tersebut kadang-kadang wajib dan terkadang juga sunnah.



Sub 3: Tawakal (al-tawakkul)
Berasal dari bahasa arab, wakila, yakilu, wakilan yang berarti “mempercayakan, memberi, membuang urusan, bersandar, dan bergantung”. Dalam bahasa Indonesia, tawakal adalah “pasrah diri kepada kehendak Allah; percaya kepada sepenuh hati kepada allah (dalam penderitaan dan sebagainya), atau sudah berikhtiar baru beerserah kepada allah (Jaffar: 75) Dalam karya-karya tasawuf, para sufi telah membberikan penjelasan mengenai makna tawakal. Hamdun al-Qashshar berkata, “tawakal adalah berpegang teguh keada allah swt.” Sahl bbin ‘abd allah al-tustari erkata “tawakal adalah melepaskan segala apa yang dikehendaki dengan menyandarkan diri kepada allah swt. Jadi pengertian tawakal secara istilah adalah rasa pasrah hamba kepada allah swt yang di sertai dengan segala daya dan upaya mematuhi, setia dan menunaikan segala pertintahNya.

Kesimpulan :
Seseorang yang fakir harus bisa bersabar dan bertawakal kepada allah swt. Dan kita sebbagai manusia harus menanamkan sifat sabar yaitu dengan tidak mudah terpancing emosinya dalam menghadapi situasi apapun, dan yang paling penting kita harus sabar dalam menghadapi cobaan yang diberikan allah swt. Begitu juga dengan tawakal, seorang umat muslim harus bisa tawakal dalam menghadapi situasi apapun, karena allah tidak akan memberikan cobaan kepada umatnya melebihi kemampuan dari kita.


Relevansi dengan bidang :

Dalam bidang sistem informasi, Seorang ahli sistem informasi harus bisa bekerja ataupun belajar dalam bidangnya dengan memiliki sifat sabar, contohnya tidak tergesa-gesa dalam mengambil suatu tindakan dalam membuat suatu project, dan bila project tersebut gagal, seorang ahli sistem informasi harus tawakal dan tidak putus asa dengan mencoba memperbaiki lagi hingga berhasil.

Minggu, 20 November 2016

Akhlak Tasawuf: Tobat, Warak dan Zuhud

IDENTITAS :
Nama: Muhammad Rafli Hakim
Nim: 72153009
Prodi/Sem: Sistem Informasi /III
Fakulta: Sains dan Teknologi
Perguruan Tinggi: UIN Sumatera Utara
Dosen Pengampu: Dr. Ja'far, MA

TEMA :
Tobat, Warak, dan Zuhud

IDENTITAS BUKU :
Ja’far. Gerbang Tasawuf : Dimensi teoretis dan praktis ajaran kaum sufi. Medan : Perdana Publishing, 2016.

Sub 1 : Tobat
         Dalam bahasa indonesia, tobat bermakna  “sadar dan menyesal akan dosa (perbuatan yang salah atau jahat) dan berniat akan memperbaiki tingkah laku dan perbuatan.”Maqam tobat (al-taubah) merupakan maqam pertama yang harus dilewati setiap salik dan diraih dengan menjalankan ibadah, mujahadah, dan riyadhah. Hampir semua sufi sepakat bahwa tobat adalah maqam pertama yang harus diperoleh setiap salik. Istilah tobat berasal dari bahasa arab, taba, yatubu. Tobatan, yang berarti kembali, dan disebut oelh Al-Quran sebanyak 87 kali dalam berbagai bentuk. (Ja’far, Gerbang Tasawuf. Hal 57. 2016)
Dalam Sunan Ibn Majah, disebutkan :
“Dari Abi Hurairah dari Nabi Muhammad SAW. Berkata sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla lebih gembira dengan tobat salah seorang diantara kalian daripada kegembiraan seseorang ketika menemukan kembali barangnya yang hilang.”

Sub 1 : Warak
         Kata warak berasal dari bahasa arab, wara’a, yari’u, wara’an yang bermakna berhati-hati, tetapi dalam kamus bahasa Indonesia, warak bermakna “patuh dan taat kepada Allah”. Di dunia tasawuf, kata warak ditandai dengan kehati-hatian dan kewaspadaan yang tinggi. Meskipun istilah ini tidak ditemukan dalam Al-Quran, tetapi semangat dan perintah untuk bersikap warak dapat dan mudah ditemukan didalamnya, dan banyak hadis Nabi Muhammad Saw menggunakan istilah warak. . (Ja’far, Gerbang Tasawuf. Hal 62. 2016)
Dalam Sunan Ibn Majah, misalnya  disebutkan :
“Dari Abi Hurairah berkata bahwa Rasulullah Saw. Berkata wahai Abu Hurairah, jadilah seorang wara’, maka engkau akan menjadi hamba yang utama. Jadilah orang yang menerima apa adanya (qana’ah), maka engkau akan menjadi manusia yang paling bersyukur. Cintailah seseorang sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri, maka engkau akan menjadi mukmin yang sebenarnya. Perbaguslah hubungan tetangga bagi orang yang bertetangga kepadamu, maka engkau akan menjadi muslim yang sebenarnya. Sedikitlah tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati”

Sub 1 :  Zuhud
         Kata zuhud berasal dari bahasa arab, zahada, yazhudu, zuhdan yang artinya menjauhkan diri, tidak jadi berkeinginan, dan tidak tertarik. Dalam bahasa Indonesia, zuhud berarti “perihal meninggalkan keduniawian, pertapaan”. (Ja’far, Gerbang Tasawuf. Hal 63. 2016)
Para sufi memberikan banyak penjelasan mengenai hakikat zuhud. Junaid mengatakan bahwa zuhud adalah “tangan seseorang kosong dari kepemilikan dan kekosongan hati dan ambisi”.
Menurut Al-Qusyairi, “zuhud adalah meninggalkan yang haram, karena yang halal dibolehkan oleh Swt, zuhud adalh meninggalkan yang haram adalah wajib dan meninggalkan yang halal adalah keutamaan”

Kesimpulan :
           Tobat adalah sadar dan menyesal akan dosa (perbuatan yang salah atau jahat) dan berniat akan memperbaiki tingkah laku dan perbuatan, Warak adalah patuh dan taat kepada Allah, selalu mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah Swt, sedangkan zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat untuk kehidupan akhirat.

Relevansi dengan bidang :
          Sebagai mahasiswa jurusan sistem informasi, kita harus bisa memiliki sifat warak dan zuhud, dan ber-tobat apabila melakukan dosa. Kita adalah generasi penerus. Maka kita harus menjadi pemuda/i penerus bangsa yang memiliki sifat islami dan religius.

Minggu, 13 November 2016

Al-Maqamat dan al-Ahwal

IDENTITAS
            Nama: Muhammad Rafli Hakim
            NIM: 72153009
            Prodi/Sem: Sistem Informasi-2 / III
            Fakultas: Sains dan Teknologi
            Perguruan Tingg: UIN Sumatera Utara
            Dosen Pengampu: Dr. Ja’far, MA
            Matakuliah: Akhlak Tasawuf

TEMA                        : Al-Maqamat dan al-Ahwal
           
BUKU                                               
Identitas Buku     : Ja’far, Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoretis dan PraktisAjaran  Kaum Sufi(Medan: Perdana Publishing, 2016)
Sub 1 : Definisi
Sub 2 : Pondasi al-Maqamat
Sub 3 : Hierarki al-Muqamat
Sub 4 : Al-Maqam Lainnya
Sub 5 : Mengenal al-Ahwal


A. DEFINISI

      Hakikat al-muqamat dapat dilihat dari karya-karya sufi yang biasanya juga diiringi kajian tentang ahwal, sebab keduanya tidak bisa dibahas secara terpisah. Dalam kitab al-Luma , al-Thusi menjelaskan bahwa muqamat adalah tingkatan seorang hamba dengan Allah Swt. yang dibangun atas dasar pelaksanaan ibadah, mujahadah, riyadhah, dan kebersamaan dengannya. Teori al-maqamat sesuai dengan Q.S Ibrahim/14:14, dan Q.S al-Shaffat/37:164.sedangkan al-ahwal adalah keadaan hati (qalb) seorang sufi  sebagai akibat dari kemurnian zikirnya.(Ja’far: 2016 hal 48)
    Pengertian ini diperkenalkan dengan maksud sebagai bagian dari pentingnya disiplin dalam tasawuf, yang tujuan perjalanan spiritual , baik itu pemahaman tentang Allah, keridhaannya, Cinta-Nya dapat dicapai dengan demikian, kesimpulan yang ditarik oleh para sufi berdasarkan pemahaman mereka tentang konsep-konsep yang menyusun urut-urutan dan macam-macam maqamat dan ahwal dan atau berdasarkan pengalaman yang mereka jalani sendiri ketika menempuh jalan spiritual. Dengan demikian, tidak semua pejalan spiritual harus mengikuti, menjalani, atau mengalami maqamat dan ahwal persis sebagaimana disebutkan oleh para sufi itu untuk dapat mencapai tujuan perjalanan spiritual. Yang pasti, dibutuhkan kualifikasi-kualifikasi spiritual yang terkait dengan keadaan hati dan ketinggian akhlak untuk meraih hal itu. Dan semuanya itu diyakini dibutuhkan upaya keras dan bersungguh-sungguh dalam melawan hawa nafsu mujahadah serta latihan-latihan keruhanian riyadhah.


B. Pondasi al-Maqamat

    Seorang salik harus lah melakukan khalwah dan uzlah dalam melaksanakan perjalanan spiritual menuju Allah swt. sebagai pondasi al-maqamat. Khalwah (menyepi) atau uzlah (mengasingkan diri) adalah memutus hubungan dengan makhluk dengan cara menyendiri untuk berdialog dan berteman dengan al-Haqq Allah s.w.t. Dalam prakteknya Ia akan makan dan minum dalam jumlah yang sesedikit mungkin dari kebutuhan tubuhnya. Ia lalu berusaha melupakan segala bentuk hasrat jasmani yang dimilikinya, dengan menyibukkan diri tanpa henti siang dan malam dengan zikir dan tafakur. Manfaat yang ia dapat dalam menjalani khalwah dan uzlah adalah bisa melepaskan diri dari perbuatan maksiat dan mengosongkan diri hanya beribah kepada allah.
    Ketika menjalankan khalwah dan uzlah, seorang salik juga harus menjalankan berbagai bentuk ibadah, mujahaddah, dan riyadhah. Menurut al-Qusyairi, ibadah atau ubudiyah adalah “melaksanakan segala apa yang diperintahkan dan menjauhi segala yang dilarang”. Sedangkan menurut  al-din al-thusi riyadhah adalah menahan jiwa binatang agar salik tidak mengikuti kecenderungannya terhadap nafsu dan amarah, dan menahan jiwa rasional agar tidak menuruti insting binatang serta watak dan perbuatan tercela. Salah satu andalan seorang salik adalah zikir. Selain berzikir seorang salik yang sedang berkhalwat harus dalam keadaan berwudhu , berpuasa,sedikit makan dan minum, sedikit bicara dan terus beramal menjalankan ibadah shalat (wajib dan sunnah). Kebanyakan sufi mengadakan khalwah selama empat puluh hari.(Ja’far:2016 hal 54 dan 55)


C. Hierarki al-Muqamat

     Dalam pengalaman spritual al-Thusi dan al-Ghazali susunan al-maqamat ada yang berbeda. Al-Ghazali tidak memasukkan wara’ sedangkan al-Thusi tidak memasukkan al-mahabbah. Berikut susunan al-Maqamatnya:
- Tobat
Orang yang menempuh jalan sufi terlebih dahulu harus bertobat dari dosa, yang dilakukan oleh anggota badan, maupun yang tersembunyi di dalam hati.
- wara’
Wara’ yaitu meninggalkan segala sesuatu yang syubhat, yaitu segala sesuatu yang yang diragukan hukumnya, tidak jelas halal-haramnya, dan meninggalkan segala sesuatu yang tidak berguna.
- Zuhud
Zuhud yaitu mengosongkan hati dari cinta terhadap dunia dan menjalani hidup untuk beribadah kepada Allah SWT, serta mengosongkan hati dari selain Allah SWT dan memusatkan hati kepada cinta-Nya.
- Faqir
Faqir yaitu menjalani hidup dengan kesadaran bahwa ia hanya membutuhkan Allah SWT.
- Sabar
Sabar yaitu sabar dalam menjalani perintah, sabar dalam meninggalkan larangan, sabar dalam menghadapi kesulitan, dan sabar atas ni’mah yang dilimpahkan oleh Allah SWT kepadanya.
- Tawakal
Tawakal yaitu menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah SWT, tidak bergantung kepada selain-Nya, dan tidak pula kepada amal perbuatannya (nafsunya).
- Cinta (al-mahabbah)
Mahabbah pada tingkatan selanjutnya dapat diartikan suatu usaha sungguh-sungguh dari seseorang untuk mencapai tingkat rohaniah tertinggi dengan terwujudnya kecintaan yang mendalam kepada Allah Swt.
- Rida
Rida yaitu menerima dengan senang hati segala sesuatu yang ditakdirkan oleh Allah SWT dan menyadari bahwa ketentuan-Nya lebih baik daripada keinginannya.


D. Al-Maqam Lainnya

Maqam lainnya yaitu Ma’rifat yang memiliki kedudukan tertinggi diantara maqam-maqam yang dilewati oleh seorang sufi untuk bertemu Allah SWT, Memperoleh ma’rifah, merupakan proses yang bersifat kontinue. Makin banyak seorang Sufi memperoleh ma’rifah dari Allah, makin banyak yang diketahuinya tentang rahasia -rahasia Allah s.w.t. dan dia pun makin dekat kepada Allah. Pada dasarnya manusia juga hidup di dunia ini dengan dihiasi dengan masalah - masalah yang sudah tentu membutuhkan kebenaran. Begitu pun sebenarnya makrifah yang seharusnya selalu dibutuhkan oleh seorang hamba untuk lebih dekat lagi dengan Tuhannya. ma’rifatullah atau mengenal Allah yaitu awal kita beragama yang artinya tahapan ma’rifat adalah tahapan yang tertinggi dari pada tahapan tahapan yang lain yang merupakan dasar tahapan. Dengan mencapai ma’rifat maka segala ibadah akan bermakna karena kita mengenal siapa yang kita sembah. Jika makrifatullah adalah awal beragama, lalu apa akhir dari agama? Akhir dari beragama juga makrifatullah karena makrifatullah adalah ruh dari agama.

   
E. Mengenal al-Ahwal

     Sebagian sufi pernah menyebut beberapa contoh al-ahwal yang tidak diraih secara mandiri melainkan anugerah dari Allah Swt. yang keadaannya tidak kekal dalam diri seorang salik. Berikut contoh al-ahwa:
• Al-Muraqabah
Secara etimologi muraqabah berarti menjaga atau mengamati tujuan. Adapun secara terminologi muraqabah adalah salah satu sikap mental yang mengandung pengertian adanya kesadaran diri bahwa ia selalu berhadapan dengan Allah dan merasa diri diawasi oleh penciptanya.
• Takut (al-khauf)
Al-khauf adalah suatu sikap mental merasa takut kepada Allah karena kurang sempurna pengabdiannya atau rasa takut dan khawatir jangan sampai Allah merasa tidak senang kepadanya.
• Harap (al-raja’)
raja’ adalah sikap optimis dalam memperoleh karunia dan nikmat Allah SWT yang disediakan bagi hambanya yang saleh dan dalam dirinya timbul rasa optimis yang besar untuk melakukan berbagai amal terpuji dan menjauhi perbuatan yang buruk dan keji.
• Rindu (al-syawq)
Rasa rindu ini memancar dari kalbu karena gelora cinta yang murni. Untuk menimbulkan rasa rindu kepada Allah maka seorang salik terlebih dahulu harus memiliki pengetahuan dan pengenalan terhadap Allah. Jika pengetahuan dan pengenalan terhadap Allah telah mendalam, maka hal tersebut akan menimbulkan rasa senang dan gairah. Rasa senang akan menimbulkan cinta dan akan tumbuh rasa rindu, rasa rindu untuk selalu bertemu dan bersama Allah.


Kesimpulan

Dalam ilmu Tasawuf, maqamat berarti kedudukan hamba dalam pandangan Allah berdasarkan apa yang telah diusahakan, baik melalui riyadhah, ibadah, maupun mujahadah. Di samping itu, maqamat berarti jalan panjang atau fase-fase yang harus ditempuh oleh seorang sufi untuk berada sedekat mungkin dengan Allah. Maqam dilalui seorang hamba melalui usaha yang sungguh-sungguh dalam melakukan sejumlah kewajiban yang harus ditempuh dalam jangka waktu tertentu. Seorang hamba tidak akan mencapai maqam berikutnya sebelum menyempurnakan maqam sebelumnya.


Relevansi dengan bidang
           
Seorang yang ahli dalam bidang sistem informasi dapat menanamkan sifat al-maqamat sebagai acuan dalam menjalankan atau belajar tentang sistem informasi dengan tidak melupakan allah. Bahkan bisa meniru atau mengikuti apa yang dilakukan para sufi.

Minggu, 06 November 2016

Mata Kuliah Akhlak Tasawuf:Metode Tazkiyah Al-Nafs

IDENTITAS
            Nama : Muhammad Rafli Hakim
            NIM : 72153009
            Prodi/Sem : Sistem Informasi-2 / III
            Fakultas : Sains dan Teknologi
            Perguruan Tinggi  : UIN Sumatera Utara
            Dosen Pengampu : Dr. Ja’far, MA
            Matakuliah : Akhlak Tasawuf

TEMA             :  Metode Tazkiyah Al-Nafs

BUKU                                              
Identitas Buku : Ja’far, Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoretis dan Praktis Ajaran Kaum Sufi(Medan: Perdana Publishing, 2016)

METODE TAZKIYAH AL - NAFS
Kaum sufi meyakini bahwa akal manusia masih memiliki kelemahan, meskipun relatif sukses memberikan gambaran rasional terhadap dunia spritual. Sekedar contoh, akal tidak mampu menyaksikan realitas spiritual, atau merumuskan konsep ibadah yang diinginkan tuhan, akan tetapi akal mampu memberikan bukti rasional bagi ekstensi tuhan dan alam malaikat, atau merumuskan daya – daya psikologis manusia, dan membuktikan kepastian hari kiamat akan terjadi. Karena metode burhani tidak mampu membuat manusia untuk dapat menyaksian (musyahadah) realitas spiritual, maka dalam epistomologi islam dikenal dengan metode tazkiyah al-nafs atau irfani yang dinilai sangat ampuh menutupi kelemahan metode burhani.
Keabsahan tazkiyah al – nafs diakui oleh kitab suci umat islam. Al-qur’an misalnya, menegaskan bahwa para nabi dan rasul diutus untuk menyucikan jiwa manusia (Q.S Ali – Imran / 3:164 ). Term tazkiyah al –nafs disebut Al - qur’an sebanyak 25 kali dalam berbagai bentuk : akiyyah, azka, yuzakki, yatazakki atau zaki. Istilah tersebut dapat bermakna “tumbuh karena berkah dari Tuhan, Halal, sifat – sifat terpuji dan menyucikan jiwa”. Adapun keutamaan tazkiyah al – nafs menurut Al - quran bahwa pelakunya disebut sebagai orang – orang beruntung dan orang tersebut diberi pahala serta keabadian surgawi. Dengan demikian, metode irfani merupakan metode yang dikembangkan dari isyarat – isyarat wahyu, metode para nabi dan rasul, dan memberikan keberuntungan dunia dan akhirat kepada penggunanya.
Metode irfani merupakan metode kaum sufi dalam islam yang mengandalkan aktifitas penyucian jiwa untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt., dan menilai bahwa ilmu hakiki hanya diraih dengan cara mendekatkan diri kepada sosok yang Maha Mengetahui (Al-Alim), bukan rasional. Al – Ghazali menekuni tasawuf dengan mempraktikkan metode para sufi seperti al – ‘uzlah, al – khalwah, al – riyadhah, dan al – mujahadah dalam rangka menyucikan jiwa, mendidik akhlak dan memurnikan hati untuk berzikir kepada allah. Al – Ghazali mengadakan khalwah selama 10 tahun untuk mempraktikkan semua metode kaum sufi, bahkan meninggalkan tahta, keluarga dan harta yang dimiliki. Dapat disimpulkan bahwa metode tazkiyah al – nafs dapat menjadi jalan lain bagi ilmuwan muslim untuk memperoleh ilmu (Ma’rifah).
Mazhab tasawuf, menurut Al – Ghazali dapat diwujudkan secara sempurna hanya melalui ilmu (‘ilm) dan amal (‘amal). Karya – karya para sufi menegaskan manusia terdiri atas badan dan jiwa (qalb). Baik badan maupun jiwa dapat menjadi sehat dan bahagia manakala kebutuhan keduanya dapat dipenuhi secara benar, dan menjadi sakit manakala kebutuhan keduanya tidak dipenuhi. Sebab itulah para sufi mengajarkan tentang usaha pemenuhan kebutuhan jiwa demi menghindari kehancurannya. Sebagaimana ditegaskan bahwa tasawuf tidak hanya sekedar ilmu, melainkan amal, sehingga menjadi dasar pijakan kaum sufi adalah mengamalkan ajaran kaum sufi dengan ‘uzlah, khalwah, riyadhah, mujahadah, ibadah dan zikr sebagai sarana paling tepat untuk menyucikan jiwa.

RELEVANSI
Keterkaitan antara sub bab kali ini dengan prodi yang saya ambil di salah satu Universitas Negeri Islam Sumatra Utara yaitu dalam mempelajari hal kita tidak hanya berpusat dalam satu teori saja tetapi kita juga harus membandingkan antar teori – teori dan pendapat para ahli dibidangnya masing – masing. Sebagai seorang progremmer kita tidak mesti harus dapat menguasai satu bahasa pemograman karena setiap perusahan kita tidak dihadapkan dengan apa program yang dikuasai tetapi akan banya pemograman yang lainnya yang akan kita jalankan. Jadi, sebagai seorang progremmer kita harus dapat menguasai beberapa keahlian dalam program.