Minggu, 08 Januari 2017
Akhlak Tasawuf: Integrasi Tasawuf dalam Sains
IDENTITAS
Nama: Muhammad Rafli Hakim
NIM: 72153009
Prodi/Sem. : Sistem Informasi/III
Fakultas: Sains dan Teknologi
Perguruan Tinggi: Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
Dosen Pengampu: Dr. Ja’far M.A.
Mata Kuliah: Akhlak Tasawuf
TEMA : Integrasi Tasawuf dalam Sains
BUKU :
Indentitas Buku :DR. Ja’far MA, Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoritis dan Praktis Ajaran Kaum Sufi (Medan:Perdana Publishing,2016).
Sub 1 : Integrasi Tasawuf dalam Ontologi Sains
Istilah ontologi berasal dari bahasa Yunani, ont yang bermakna keberadaan, dan logos yang bermakna teori, sedangkan dalam bahasa latin disebut ontologia, sehingga ontologi bermakna teori keberadaan sebagaimana keberadaan tersebut. Ontologi dapat dimaknai sebagai ilmu tentang esensi segala sesuatu. Ontologi merupakan bagian dari metafisika yang merupakan bagian dari filsafat; dan membahas teori keberadaan seperti keberadaan dan karakteristik esensial keberadaan.
Para sufi awal memang lebih banyak memfokuskan kepada masalah pendekatan kepada Allah SWT, tetapi belakangan mereka meluaskan objek kajian tasawuf sampai kepada persoalan wujud, selain tasawuf juga mulai bersinggungan dengan filsafat, sehingga mereka tidak saja membahas dan menyibak hakikat wujud – Nya, tetapi juga wujud alam dan manusia. Dari aspek ini, akan dapat dilihat titik singgung antara tasawuf dengan saintis, sebab tasawuf bukan hanya membahas tentang bagaimana mendekatkan diri kepada Allah SWT atau hakikat wujud – Nya, tetapi juga memberikan perspektif tasawuf mengenai hakikat alam dan manusia, sebagaimana sains juga hendak mengkaji dan menelaah fenomena – fenoma alam, terutama berbagai persoalan tentang mineral, tumbuhan, hewan, dan manusia. Tentu saja, gagasan kaum sufi dinilai akan memberikan kontribusi dan pengayaaan perpektif dalam upaya memahami dunia fisik tersebut.
Saintis muslim sebagai peneliti alam empiric harus menyadari bahwa alam merupakan ciptaan dan manifestasi Allah SWT; dan ajaran islam mengajarkan bahwa alam merupakan tanda – tanda keberadaan dan kekuasaan – Nya, sehingga penelitian terhadap alam diharapkan dapat menumbuhkan dan memperkokoh keimanan terhadap – Nya, bukan menjauhkan manusia dari – Nya sebagaimana ditemukan dalam banyak teori ilmuan – ilmuan barat – sekuler.
Sub 2 : Integrasi Tasawuf dalam Epistemologi
Istilah epistemologi berasal dari bahasa Yunani, espiteme yang bermakna pengetahuan, dan logos yang bermakna ilmu atau eksplanasi, sehingga epistemologi berarti teori pengetahuan. Epistemologi dimaknai sebagai cabang filsafat yang membahas pengetahuan dan pembenaran, dan kajian pokok epistemology adalah makna pengetahuan, kemungkinan manusia meraih pengetahuan, dan hal – hal yang dapat diketahui. Dengan demikian, epistemologi adalah ilmu tentang cara mendapatkan ilmu.
Kajian – kajian ilmu – ilmu alam menghandalkan metode observasi dan eksperimen yang disebut dalam epistemologi islam sebagai metode tajribi, sedangkan kajian tasawuf mengandalkan metode irfani yang biasa disebut metode tazkiyah al nafs. Meskipun ada perbedaan metode, tetapi kedua metode bisa melengkapi dan mendukung satu sama lain.
Dari aspek ini, saintis muslim, meskipun lebih banyak mengedepankan metode tajribi dalam mengembangkan ilmu – ilmu alam, tetap perlu mengambil metode tasawuf dalam menemukan ilmu dan kebenaran, dimana kaum sufi mengutamakan metode tazkiyah al nafs dengan melaksanakan berbagai ritual ibadah termasuk zikir, serta melakukan praktek riyadhah dan mujahadah. Dari perspektif islam, kesucian jiwa manusia menjadi syarat utama memperoleh ilmu secara langsung dari sumber asalnya, yaitu Allah SWT yang diketahui memiliki sifat al – Alim.
Sub 3 : Integrasi Tasawuf dalam Aksiologi
Istilah aksiologi berasal dari bahasa Yunani, axios yang bermakna nilai, dan logos yang berarti teori. Aksiologi bermakna teori nilai, investigasi terhadap asal, criteria, dan status metafisik dari nilai tersebut. Aksiologi disebut dengan teori nilai. Aksiologi juga dimaknai sebagai studi tentang manfaat akhir dari segala sesuatu. Jadi, aksiologi membahas tentang nilai kegunaan ilmu, tujuan pencarian dan pengembangan ilmu, kaitan antara penggunaan dan pengembangan ilmu dengan kaedah moral, serta tanggung jawab sosial ilmuan. Kajian aksiologi lebih ditujukan kepada pembahasan manfaat dan kegunaan ilmu, dan etika akademik ilmuan.
Dari aspek etika akademik, nilai – nilai luhur tasawuf dapat menjadi landasan etis seorang ilmuan dalam pengembangan sains dan teknologi. Konsep al maqamat dan al ahwal dapat menjadi semacam etika profesi seorang saintis sebagai ilmuan muslim. Sekedar contoh, seorang saintis muslim sebagaimana ilmuan muslim klasik, harus menampilkan kehidupan sufistik seperti sikap zhud, wara’, sabar, tawakal, cinta, fakir, dan rida dalam menjalankan kegiatan akademik maupun dalam kehidupan sosialnya. Dengan demikian, saintis muslim masa depan dituntut untuk mengail kearifan dalam ajaran tasawuf, dan dapat menginternalisasikannya dalam kehidupan akademik dan sosialnya.
Kesimpulan :
Dari bahasan diatas kita mengetahui bahwa Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi memiliki pengertian tentang keilmuan. Ontologi bermakna ilmu tentang keberadaan dan realitas lalu epistemologi ilmu tentang ilmu untuk mempelajari ilmu, sedangkan aksiologi adalah ilmu tentang teori nilai. Dalam mengintegrasi sains kedalam 3 dasar ilmu ini, memiliki cara yang berbeda. Untuk ontologi kita bisa memakai metode pendekatan dan mengkaitan agama dengan keberadaan sains yang sudah ada. Untuk epistemologi kita bisa menggunakan metode tajribi atau metode observasi untuk mengetahui apakah agama menyinggung tentang sains yang ditemukan para ilmuan. Untuk aksiologi kita bisa mengguankan metode metode ilmiah untuk mengetahui kegunaan sains yang sudah ditemukan apakah berguna untuk agama.
RELEVANSI DENGAN BIDANG :
Sistem Informasi
Sistem Informasi, mengharuskan seorang Programer atau Sistem Analis, untuk ikut juga mengkaji tentang keberadaan Tuhan, yang mana dalam menganalisa keberadaan Tuhan dapat kita lihat dengan melihat kekuasaan pada ciptaan-Nya. Dengan melakukan penelitian terhadap alam, makhluk ciptaan dan segala sesuatu yang terdapat didalamnya dapat menambah keimanan.
Disamping itu kita juga dituntut untuk menciptakan suatu sistem informasi yang berguna untuk kemaslahatan ummat.
Langganan:
Postingan (Atom)