IDENTITAS
Nama : Muhammad Rafli Hakim
NIM : 72153009
Prodi/Sem. : Sistem Informasi-2 / III
Fakultas : Sains dan Teknologi
Perguruan Tinggi : UIN Sumatera Utara
Dosen Pengampu : Dr. Ja’far, MA
Matakuliah : Akhlak Tasawuf
TEMA : Integrasi Tasawuf dan Sains
BUKU
Identitas Buku : Ja’far, Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoretis dan Praktis Ajaran Kaum Sufi(Medan: Perdana Publishing, 2016)
Sub 1 : Integrasi Dalam Sejarah Islam
Dalam sejarah intelektual klasik, budaya integrasi keilmuan telah dikenal dan dikembangkan dengan canggih. Dalam sejarah islam, ditemukan seorang ahli astronomi, ahli biologi, ahli matematika, dan ahli arsitektur yang mumpuni dalam bidang ilmu-ilmu keislaman seperti tauhid, fikih, tafsir, hadis, dan tasawuf, para pemikir muslim klasik menempuh pola hidup statistic, dan kajian-kajian ilmiah mereka arahkan kepada pencapaian tujuan-tujuan religious dan spiritual.
Para filsuf dari mahzab peripaterik merupakan pemikir muslim yang berhasil mengintegrasikan filsafat yunani dengan ajaran islam yang bersumberkan kepada al-qur’an dan hadis, tidak sebatas integrasi belaka, mereka malah mampu menguasai berbagai disiplin ilmu yang terdiri atas ilmu-ilmu rasional dan ilmu-ilmu kewahyuan, sehingga integrasi menjadi sangat mudah dilakukan. Selain dari mahzab peripatetic, sejarah islam menyebutkan keberadaan para filsuf dari mahzab isyraqiyah dan mahzab hikmah al-muta’aliyah yang sukses mengintegrasikan ilmu-ilmu rasional dengan ilmu-ilmu kewahyuan. Diantara mereka adalah Suhrawardi (w.1191) yang dikenal ahli filsafat,tasawuf, dan hokum islam. Quthb al-Din al-Syirazi (w.1311) cukup dikenal sebagai ahli dalam bidang astronomi, matematika, kedokteran, fisika, music, filsafat, dan tasawuf. Dengan demikian, integrasi ilmu dalam islam bukan yang baru. Sebab, para ilmuan muslim klasik telah mengerjakan proyek keilmuan tersebut sepanjang masa keemasan islam. Paling tidak, secara akademik mereka menguasai seluruh disiplin ilmu yang berkembang pesat pada masa mereka, baik ilmu-ilmu rasional, ilmu-ilmu empiric, maupun ilmu-ilmu kewahyuan, mereka bahkan mengintegrasikan kedua jenis ilmu tersebut, dan keduanya saling mendukung kegiatan akademik mereka. Meskipun mereka seorang filsuf dan saintis, perilaku hidup mereka merupakan realisasi terhadap teori bahwa mereka sukses mengintegrasikan antara dua jenis ilmu tersebut, dan mengintegrasikan keduanya dengan keyakinan dan perilaku hidup mereka sehari-hari. (DR.Ja’far,MA.Gerbang Tasawuf.Hal 102-105-2016)
KESIMPULAN
Dalam sejarah intelektual klasik, budaya integrasi keilmuan telah dikenal dan dikembangkan dengan sangat canggih, Sebab, para ilmuan muslim klasik telah mengerjakan proyek keilmuan tersebut sepanjang masa keemasan islam. Paling tidak, secara akademik mereka menguasai seluruh disiplin ilmu yang berkembang pesat pada masa mereka, baik ilmu-ilmu rasional, ilmu-ilmu empiric, maupun ilmu-ilmu kewahyuan.
RELEVANSI DENGAN BIDANG :
kita harus bersungguh-sungguh dalam belajar dan memiliki memiliki pola pikir seperti para pemikir ilmuwan muslim klasik baik dari mazhab peripatetic, mazhab isyaraqiyah maupun mazhab hikmah al-muta’aliyah yang berlandaskan alquran dan hadits, agar kelak nantinya kita bisa menjadi seperti para ilmuan muslim.yang nantinya dapat mengintegrasikan antara dua jenis ilmu yaitu agama dan teknologi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar