Sabtu, 26 November 2016

Akhlak Tasawuf: Fakir, Sabar dan Tawakal

Nama: Muhammad Rafli Hakim
NIM: 72153009
Prodi/Sem: Sistem Informasi-2 / III
Fakultas: Sains dan Teknologi
Perguruan Tinggi: UIN Sumatera Utara
Dosen Pengampu: Dr. Ja’far, MA
Matakuliah: Akhlak Tasawuf

TEMA               : Fakir, Sabar dan Tawakal
Buku
Identitas Buku : Dr. Jaffar, MA, Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoritis dan Praktis Ajaran Kaum                   Sufi (Medan: Perdana Publishing, 2016)
           
Sub 1: Fakir (al-faqr)
            Dalam terminology Al-quran, istilah fakir berasal dari bahasa arab, faqura, yafquru, faqran yang artinya miskin. Istilah faqr bermakna kemiskinan (Jaffar: 68).  Dalam bahasa Indonesia, fakir berarti orang yang sangat berkekurangan. Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa fakir itu adalah orang yang tidak memiliki harta sama sekali. Kemudian Imam Al-Ghazali mengkasifikasikan hakikat fakir itu dan memberinya masing-masing nama ;
  • ·         Hal yang pertama, adalah jika orang itu diberi harta, orang itu tidak menyukainya dan orang itu merasa tersiksa dengan harta tersebut. Maka orang itu disebut zuhud
  • ·         Hal yang kedua, ialah orang tersebut tidak menyukai harta walaupun orang itu berhasil memperoleh harta tersebut dengan penuh kesenangan. Tapi orang tersebut tidak membenci dengan harta yang diperolhnya itu, maka ia disebut rela
  • ·         Hal yang ketiga, yaitu orang tersebut diberi harta namun tidak sampai harta tersebut menggerakkan orang itu untuk mencarinya, tapi orang itu tetap mau mengambilnya.maka sifat itu disebut qona’ah.
  • ·         Hal yang keempat, orang tersebut lemah dalam mencari harta namun ia tetap mau mencarinya walupun dengan bersusah payah, hanya karena kerakusannya. Orang ini disebut rakus harta.
  • ·         Hal yang kelima, orang tersebut tidak memiliki harta sama sekali kalaupun ada orang tersebut masih saja dibilang telanjang kalaupun memakai pakaian. Maka orang itu disebut ‘terpaksa’.


Sub 2: Sabar (al-shabr)
            Kata sabar berasal dari bahasa arab, sahabara, yashbiru, shabbran, maknanya adalah mengikat, bersabar, menahan dari larangan hokum, dan menahan diri dari kesedihan. Dalam bahasa Indonesia, sabar bermakna “tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati), dan tabah tidak tergesa gesa, dan tidak teerburu nafsu (Jaffar: 71). Allah berfirman dalam surat Al-Anfâl ayat 46:

وَاصْبِرُوْا اِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِيْنَ (الأنفال: ٤٦)

“Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”.

            Al-ghazali membagi sabar menjadi 3:
  • ·      Sabar dalam ketaatan kepada Allah swt.; Nafsu sering bertentangan dengan ketaatan, seperti rasa malas dalam shalat, sifat kikir dalam zakat, dan rasa malas serta kikir secara bersamaan, dalam haji dan jihad. Bersabar dalam taat, merupakan suatu perbuatan yang sangat berat dan sulit.
  • ·    Sabar terhadap maksiat; Bersikap sabar terhadap maksiat lebih berat dan sulit lagi, apalagi terhadap maksiat yang sudah menjadi watak kebiasaan. Sebab, pasukan yang muncul untuk menghadapi dorongan-dorongan keagamaan di sini terdiri dari dua lapisan, yaitu pasukan hawa nafsu dan pasukan watak kebiasaan.
  • ·      Sabar terhadap musibah; Seperti gangguan dari orang lain, baik itu dengan tangan atau lisan. Bersabar terhadap hal tersebut, dilakukan dengan tanpa membalas sikap tersebut kadang-kadang wajib dan terkadang juga sunnah.



Sub 3: Tawakal (al-tawakkul)
Berasal dari bahasa arab, wakila, yakilu, wakilan yang berarti “mempercayakan, memberi, membuang urusan, bersandar, dan bergantung”. Dalam bahasa Indonesia, tawakal adalah “pasrah diri kepada kehendak Allah; percaya kepada sepenuh hati kepada allah (dalam penderitaan dan sebagainya), atau sudah berikhtiar baru beerserah kepada allah (Jaffar: 75) Dalam karya-karya tasawuf, para sufi telah membberikan penjelasan mengenai makna tawakal. Hamdun al-Qashshar berkata, “tawakal adalah berpegang teguh keada allah swt.” Sahl bbin ‘abd allah al-tustari erkata “tawakal adalah melepaskan segala apa yang dikehendaki dengan menyandarkan diri kepada allah swt. Jadi pengertian tawakal secara istilah adalah rasa pasrah hamba kepada allah swt yang di sertai dengan segala daya dan upaya mematuhi, setia dan menunaikan segala pertintahNya.

Kesimpulan :
Seseorang yang fakir harus bisa bersabar dan bertawakal kepada allah swt. Dan kita sebbagai manusia harus menanamkan sifat sabar yaitu dengan tidak mudah terpancing emosinya dalam menghadapi situasi apapun, dan yang paling penting kita harus sabar dalam menghadapi cobaan yang diberikan allah swt. Begitu juga dengan tawakal, seorang umat muslim harus bisa tawakal dalam menghadapi situasi apapun, karena allah tidak akan memberikan cobaan kepada umatnya melebihi kemampuan dari kita.


Relevansi dengan bidang :

Dalam bidang sistem informasi, Seorang ahli sistem informasi harus bisa bekerja ataupun belajar dalam bidangnya dengan memiliki sifat sabar, contohnya tidak tergesa-gesa dalam mengambil suatu tindakan dalam membuat suatu project, dan bila project tersebut gagal, seorang ahli sistem informasi harus tawakal dan tidak putus asa dengan mencoba memperbaiki lagi hingga berhasil.

Minggu, 20 November 2016

Akhlak Tasawuf: Tobat, Warak dan Zuhud

IDENTITAS :
Nama: Muhammad Rafli Hakim
Nim: 72153009
Prodi/Sem: Sistem Informasi /III
Fakulta: Sains dan Teknologi
Perguruan Tinggi: UIN Sumatera Utara
Dosen Pengampu: Dr. Ja'far, MA

TEMA :
Tobat, Warak, dan Zuhud

IDENTITAS BUKU :
Ja’far. Gerbang Tasawuf : Dimensi teoretis dan praktis ajaran kaum sufi. Medan : Perdana Publishing, 2016.

Sub 1 : Tobat
         Dalam bahasa indonesia, tobat bermakna  “sadar dan menyesal akan dosa (perbuatan yang salah atau jahat) dan berniat akan memperbaiki tingkah laku dan perbuatan.”Maqam tobat (al-taubah) merupakan maqam pertama yang harus dilewati setiap salik dan diraih dengan menjalankan ibadah, mujahadah, dan riyadhah. Hampir semua sufi sepakat bahwa tobat adalah maqam pertama yang harus diperoleh setiap salik. Istilah tobat berasal dari bahasa arab, taba, yatubu. Tobatan, yang berarti kembali, dan disebut oelh Al-Quran sebanyak 87 kali dalam berbagai bentuk. (Ja’far, Gerbang Tasawuf. Hal 57. 2016)
Dalam Sunan Ibn Majah, disebutkan :
“Dari Abi Hurairah dari Nabi Muhammad SAW. Berkata sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla lebih gembira dengan tobat salah seorang diantara kalian daripada kegembiraan seseorang ketika menemukan kembali barangnya yang hilang.”

Sub 1 : Warak
         Kata warak berasal dari bahasa arab, wara’a, yari’u, wara’an yang bermakna berhati-hati, tetapi dalam kamus bahasa Indonesia, warak bermakna “patuh dan taat kepada Allah”. Di dunia tasawuf, kata warak ditandai dengan kehati-hatian dan kewaspadaan yang tinggi. Meskipun istilah ini tidak ditemukan dalam Al-Quran, tetapi semangat dan perintah untuk bersikap warak dapat dan mudah ditemukan didalamnya, dan banyak hadis Nabi Muhammad Saw menggunakan istilah warak. . (Ja’far, Gerbang Tasawuf. Hal 62. 2016)
Dalam Sunan Ibn Majah, misalnya  disebutkan :
“Dari Abi Hurairah berkata bahwa Rasulullah Saw. Berkata wahai Abu Hurairah, jadilah seorang wara’, maka engkau akan menjadi hamba yang utama. Jadilah orang yang menerima apa adanya (qana’ah), maka engkau akan menjadi manusia yang paling bersyukur. Cintailah seseorang sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri, maka engkau akan menjadi mukmin yang sebenarnya. Perbaguslah hubungan tetangga bagi orang yang bertetangga kepadamu, maka engkau akan menjadi muslim yang sebenarnya. Sedikitlah tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati”

Sub 1 :  Zuhud
         Kata zuhud berasal dari bahasa arab, zahada, yazhudu, zuhdan yang artinya menjauhkan diri, tidak jadi berkeinginan, dan tidak tertarik. Dalam bahasa Indonesia, zuhud berarti “perihal meninggalkan keduniawian, pertapaan”. (Ja’far, Gerbang Tasawuf. Hal 63. 2016)
Para sufi memberikan banyak penjelasan mengenai hakikat zuhud. Junaid mengatakan bahwa zuhud adalah “tangan seseorang kosong dari kepemilikan dan kekosongan hati dan ambisi”.
Menurut Al-Qusyairi, “zuhud adalah meninggalkan yang haram, karena yang halal dibolehkan oleh Swt, zuhud adalh meninggalkan yang haram adalah wajib dan meninggalkan yang halal adalah keutamaan”

Kesimpulan :
           Tobat adalah sadar dan menyesal akan dosa (perbuatan yang salah atau jahat) dan berniat akan memperbaiki tingkah laku dan perbuatan, Warak adalah patuh dan taat kepada Allah, selalu mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah Swt, sedangkan zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat untuk kehidupan akhirat.

Relevansi dengan bidang :
          Sebagai mahasiswa jurusan sistem informasi, kita harus bisa memiliki sifat warak dan zuhud, dan ber-tobat apabila melakukan dosa. Kita adalah generasi penerus. Maka kita harus menjadi pemuda/i penerus bangsa yang memiliki sifat islami dan religius.

Minggu, 13 November 2016

Al-Maqamat dan al-Ahwal

IDENTITAS
            Nama: Muhammad Rafli Hakim
            NIM: 72153009
            Prodi/Sem: Sistem Informasi-2 / III
            Fakultas: Sains dan Teknologi
            Perguruan Tingg: UIN Sumatera Utara
            Dosen Pengampu: Dr. Ja’far, MA
            Matakuliah: Akhlak Tasawuf

TEMA                        : Al-Maqamat dan al-Ahwal
           
BUKU                                               
Identitas Buku     : Ja’far, Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoretis dan PraktisAjaran  Kaum Sufi(Medan: Perdana Publishing, 2016)
Sub 1 : Definisi
Sub 2 : Pondasi al-Maqamat
Sub 3 : Hierarki al-Muqamat
Sub 4 : Al-Maqam Lainnya
Sub 5 : Mengenal al-Ahwal


A. DEFINISI

      Hakikat al-muqamat dapat dilihat dari karya-karya sufi yang biasanya juga diiringi kajian tentang ahwal, sebab keduanya tidak bisa dibahas secara terpisah. Dalam kitab al-Luma , al-Thusi menjelaskan bahwa muqamat adalah tingkatan seorang hamba dengan Allah Swt. yang dibangun atas dasar pelaksanaan ibadah, mujahadah, riyadhah, dan kebersamaan dengannya. Teori al-maqamat sesuai dengan Q.S Ibrahim/14:14, dan Q.S al-Shaffat/37:164.sedangkan al-ahwal adalah keadaan hati (qalb) seorang sufi  sebagai akibat dari kemurnian zikirnya.(Ja’far: 2016 hal 48)
    Pengertian ini diperkenalkan dengan maksud sebagai bagian dari pentingnya disiplin dalam tasawuf, yang tujuan perjalanan spiritual , baik itu pemahaman tentang Allah, keridhaannya, Cinta-Nya dapat dicapai dengan demikian, kesimpulan yang ditarik oleh para sufi berdasarkan pemahaman mereka tentang konsep-konsep yang menyusun urut-urutan dan macam-macam maqamat dan ahwal dan atau berdasarkan pengalaman yang mereka jalani sendiri ketika menempuh jalan spiritual. Dengan demikian, tidak semua pejalan spiritual harus mengikuti, menjalani, atau mengalami maqamat dan ahwal persis sebagaimana disebutkan oleh para sufi itu untuk dapat mencapai tujuan perjalanan spiritual. Yang pasti, dibutuhkan kualifikasi-kualifikasi spiritual yang terkait dengan keadaan hati dan ketinggian akhlak untuk meraih hal itu. Dan semuanya itu diyakini dibutuhkan upaya keras dan bersungguh-sungguh dalam melawan hawa nafsu mujahadah serta latihan-latihan keruhanian riyadhah.


B. Pondasi al-Maqamat

    Seorang salik harus lah melakukan khalwah dan uzlah dalam melaksanakan perjalanan spiritual menuju Allah swt. sebagai pondasi al-maqamat. Khalwah (menyepi) atau uzlah (mengasingkan diri) adalah memutus hubungan dengan makhluk dengan cara menyendiri untuk berdialog dan berteman dengan al-Haqq Allah s.w.t. Dalam prakteknya Ia akan makan dan minum dalam jumlah yang sesedikit mungkin dari kebutuhan tubuhnya. Ia lalu berusaha melupakan segala bentuk hasrat jasmani yang dimilikinya, dengan menyibukkan diri tanpa henti siang dan malam dengan zikir dan tafakur. Manfaat yang ia dapat dalam menjalani khalwah dan uzlah adalah bisa melepaskan diri dari perbuatan maksiat dan mengosongkan diri hanya beribah kepada allah.
    Ketika menjalankan khalwah dan uzlah, seorang salik juga harus menjalankan berbagai bentuk ibadah, mujahaddah, dan riyadhah. Menurut al-Qusyairi, ibadah atau ubudiyah adalah “melaksanakan segala apa yang diperintahkan dan menjauhi segala yang dilarang”. Sedangkan menurut  al-din al-thusi riyadhah adalah menahan jiwa binatang agar salik tidak mengikuti kecenderungannya terhadap nafsu dan amarah, dan menahan jiwa rasional agar tidak menuruti insting binatang serta watak dan perbuatan tercela. Salah satu andalan seorang salik adalah zikir. Selain berzikir seorang salik yang sedang berkhalwat harus dalam keadaan berwudhu , berpuasa,sedikit makan dan minum, sedikit bicara dan terus beramal menjalankan ibadah shalat (wajib dan sunnah). Kebanyakan sufi mengadakan khalwah selama empat puluh hari.(Ja’far:2016 hal 54 dan 55)


C. Hierarki al-Muqamat

     Dalam pengalaman spritual al-Thusi dan al-Ghazali susunan al-maqamat ada yang berbeda. Al-Ghazali tidak memasukkan wara’ sedangkan al-Thusi tidak memasukkan al-mahabbah. Berikut susunan al-Maqamatnya:
- Tobat
Orang yang menempuh jalan sufi terlebih dahulu harus bertobat dari dosa, yang dilakukan oleh anggota badan, maupun yang tersembunyi di dalam hati.
- wara’
Wara’ yaitu meninggalkan segala sesuatu yang syubhat, yaitu segala sesuatu yang yang diragukan hukumnya, tidak jelas halal-haramnya, dan meninggalkan segala sesuatu yang tidak berguna.
- Zuhud
Zuhud yaitu mengosongkan hati dari cinta terhadap dunia dan menjalani hidup untuk beribadah kepada Allah SWT, serta mengosongkan hati dari selain Allah SWT dan memusatkan hati kepada cinta-Nya.
- Faqir
Faqir yaitu menjalani hidup dengan kesadaran bahwa ia hanya membutuhkan Allah SWT.
- Sabar
Sabar yaitu sabar dalam menjalani perintah, sabar dalam meninggalkan larangan, sabar dalam menghadapi kesulitan, dan sabar atas ni’mah yang dilimpahkan oleh Allah SWT kepadanya.
- Tawakal
Tawakal yaitu menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah SWT, tidak bergantung kepada selain-Nya, dan tidak pula kepada amal perbuatannya (nafsunya).
- Cinta (al-mahabbah)
Mahabbah pada tingkatan selanjutnya dapat diartikan suatu usaha sungguh-sungguh dari seseorang untuk mencapai tingkat rohaniah tertinggi dengan terwujudnya kecintaan yang mendalam kepada Allah Swt.
- Rida
Rida yaitu menerima dengan senang hati segala sesuatu yang ditakdirkan oleh Allah SWT dan menyadari bahwa ketentuan-Nya lebih baik daripada keinginannya.


D. Al-Maqam Lainnya

Maqam lainnya yaitu Ma’rifat yang memiliki kedudukan tertinggi diantara maqam-maqam yang dilewati oleh seorang sufi untuk bertemu Allah SWT, Memperoleh ma’rifah, merupakan proses yang bersifat kontinue. Makin banyak seorang Sufi memperoleh ma’rifah dari Allah, makin banyak yang diketahuinya tentang rahasia -rahasia Allah s.w.t. dan dia pun makin dekat kepada Allah. Pada dasarnya manusia juga hidup di dunia ini dengan dihiasi dengan masalah - masalah yang sudah tentu membutuhkan kebenaran. Begitu pun sebenarnya makrifah yang seharusnya selalu dibutuhkan oleh seorang hamba untuk lebih dekat lagi dengan Tuhannya. ma’rifatullah atau mengenal Allah yaitu awal kita beragama yang artinya tahapan ma’rifat adalah tahapan yang tertinggi dari pada tahapan tahapan yang lain yang merupakan dasar tahapan. Dengan mencapai ma’rifat maka segala ibadah akan bermakna karena kita mengenal siapa yang kita sembah. Jika makrifatullah adalah awal beragama, lalu apa akhir dari agama? Akhir dari beragama juga makrifatullah karena makrifatullah adalah ruh dari agama.

   
E. Mengenal al-Ahwal

     Sebagian sufi pernah menyebut beberapa contoh al-ahwal yang tidak diraih secara mandiri melainkan anugerah dari Allah Swt. yang keadaannya tidak kekal dalam diri seorang salik. Berikut contoh al-ahwa:
• Al-Muraqabah
Secara etimologi muraqabah berarti menjaga atau mengamati tujuan. Adapun secara terminologi muraqabah adalah salah satu sikap mental yang mengandung pengertian adanya kesadaran diri bahwa ia selalu berhadapan dengan Allah dan merasa diri diawasi oleh penciptanya.
• Takut (al-khauf)
Al-khauf adalah suatu sikap mental merasa takut kepada Allah karena kurang sempurna pengabdiannya atau rasa takut dan khawatir jangan sampai Allah merasa tidak senang kepadanya.
• Harap (al-raja’)
raja’ adalah sikap optimis dalam memperoleh karunia dan nikmat Allah SWT yang disediakan bagi hambanya yang saleh dan dalam dirinya timbul rasa optimis yang besar untuk melakukan berbagai amal terpuji dan menjauhi perbuatan yang buruk dan keji.
• Rindu (al-syawq)
Rasa rindu ini memancar dari kalbu karena gelora cinta yang murni. Untuk menimbulkan rasa rindu kepada Allah maka seorang salik terlebih dahulu harus memiliki pengetahuan dan pengenalan terhadap Allah. Jika pengetahuan dan pengenalan terhadap Allah telah mendalam, maka hal tersebut akan menimbulkan rasa senang dan gairah. Rasa senang akan menimbulkan cinta dan akan tumbuh rasa rindu, rasa rindu untuk selalu bertemu dan bersama Allah.


Kesimpulan

Dalam ilmu Tasawuf, maqamat berarti kedudukan hamba dalam pandangan Allah berdasarkan apa yang telah diusahakan, baik melalui riyadhah, ibadah, maupun mujahadah. Di samping itu, maqamat berarti jalan panjang atau fase-fase yang harus ditempuh oleh seorang sufi untuk berada sedekat mungkin dengan Allah. Maqam dilalui seorang hamba melalui usaha yang sungguh-sungguh dalam melakukan sejumlah kewajiban yang harus ditempuh dalam jangka waktu tertentu. Seorang hamba tidak akan mencapai maqam berikutnya sebelum menyempurnakan maqam sebelumnya.


Relevansi dengan bidang
           
Seorang yang ahli dalam bidang sistem informasi dapat menanamkan sifat al-maqamat sebagai acuan dalam menjalankan atau belajar tentang sistem informasi dengan tidak melupakan allah. Bahkan bisa meniru atau mengikuti apa yang dilakukan para sufi.

Minggu, 06 November 2016

Mata Kuliah Akhlak Tasawuf:Metode Tazkiyah Al-Nafs

IDENTITAS
            Nama : Muhammad Rafli Hakim
            NIM : 72153009
            Prodi/Sem : Sistem Informasi-2 / III
            Fakultas : Sains dan Teknologi
            Perguruan Tinggi  : UIN Sumatera Utara
            Dosen Pengampu : Dr. Ja’far, MA
            Matakuliah : Akhlak Tasawuf

TEMA             :  Metode Tazkiyah Al-Nafs

BUKU                                              
Identitas Buku : Ja’far, Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoretis dan Praktis Ajaran Kaum Sufi(Medan: Perdana Publishing, 2016)

METODE TAZKIYAH AL - NAFS
Kaum sufi meyakini bahwa akal manusia masih memiliki kelemahan, meskipun relatif sukses memberikan gambaran rasional terhadap dunia spritual. Sekedar contoh, akal tidak mampu menyaksikan realitas spiritual, atau merumuskan konsep ibadah yang diinginkan tuhan, akan tetapi akal mampu memberikan bukti rasional bagi ekstensi tuhan dan alam malaikat, atau merumuskan daya – daya psikologis manusia, dan membuktikan kepastian hari kiamat akan terjadi. Karena metode burhani tidak mampu membuat manusia untuk dapat menyaksian (musyahadah) realitas spiritual, maka dalam epistomologi islam dikenal dengan metode tazkiyah al-nafs atau irfani yang dinilai sangat ampuh menutupi kelemahan metode burhani.
Keabsahan tazkiyah al – nafs diakui oleh kitab suci umat islam. Al-qur’an misalnya, menegaskan bahwa para nabi dan rasul diutus untuk menyucikan jiwa manusia (Q.S Ali – Imran / 3:164 ). Term tazkiyah al –nafs disebut Al - qur’an sebanyak 25 kali dalam berbagai bentuk : akiyyah, azka, yuzakki, yatazakki atau zaki. Istilah tersebut dapat bermakna “tumbuh karena berkah dari Tuhan, Halal, sifat – sifat terpuji dan menyucikan jiwa”. Adapun keutamaan tazkiyah al – nafs menurut Al - quran bahwa pelakunya disebut sebagai orang – orang beruntung dan orang tersebut diberi pahala serta keabadian surgawi. Dengan demikian, metode irfani merupakan metode yang dikembangkan dari isyarat – isyarat wahyu, metode para nabi dan rasul, dan memberikan keberuntungan dunia dan akhirat kepada penggunanya.
Metode irfani merupakan metode kaum sufi dalam islam yang mengandalkan aktifitas penyucian jiwa untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt., dan menilai bahwa ilmu hakiki hanya diraih dengan cara mendekatkan diri kepada sosok yang Maha Mengetahui (Al-Alim), bukan rasional. Al – Ghazali menekuni tasawuf dengan mempraktikkan metode para sufi seperti al – ‘uzlah, al – khalwah, al – riyadhah, dan al – mujahadah dalam rangka menyucikan jiwa, mendidik akhlak dan memurnikan hati untuk berzikir kepada allah. Al – Ghazali mengadakan khalwah selama 10 tahun untuk mempraktikkan semua metode kaum sufi, bahkan meninggalkan tahta, keluarga dan harta yang dimiliki. Dapat disimpulkan bahwa metode tazkiyah al – nafs dapat menjadi jalan lain bagi ilmuwan muslim untuk memperoleh ilmu (Ma’rifah).
Mazhab tasawuf, menurut Al – Ghazali dapat diwujudkan secara sempurna hanya melalui ilmu (‘ilm) dan amal (‘amal). Karya – karya para sufi menegaskan manusia terdiri atas badan dan jiwa (qalb). Baik badan maupun jiwa dapat menjadi sehat dan bahagia manakala kebutuhan keduanya dapat dipenuhi secara benar, dan menjadi sakit manakala kebutuhan keduanya tidak dipenuhi. Sebab itulah para sufi mengajarkan tentang usaha pemenuhan kebutuhan jiwa demi menghindari kehancurannya. Sebagaimana ditegaskan bahwa tasawuf tidak hanya sekedar ilmu, melainkan amal, sehingga menjadi dasar pijakan kaum sufi adalah mengamalkan ajaran kaum sufi dengan ‘uzlah, khalwah, riyadhah, mujahadah, ibadah dan zikr sebagai sarana paling tepat untuk menyucikan jiwa.

RELEVANSI
Keterkaitan antara sub bab kali ini dengan prodi yang saya ambil di salah satu Universitas Negeri Islam Sumatra Utara yaitu dalam mempelajari hal kita tidak hanya berpusat dalam satu teori saja tetapi kita juga harus membandingkan antar teori – teori dan pendapat para ahli dibidangnya masing – masing. Sebagai seorang progremmer kita tidak mesti harus dapat menguasai satu bahasa pemograman karena setiap perusahan kita tidak dihadapkan dengan apa program yang dikuasai tetapi akan banya pemograman yang lainnya yang akan kita jalankan. Jadi, sebagai seorang progremmer kita harus dapat menguasai beberapa keahlian dalam program.