Nama: Muhammad Rafli Hakim
NIM: 72153009
Prodi/Sem: Sistem Informasi-2 / III
Fakultas: Sains dan Teknologi
Perguruan Tinggi: UIN Sumatera Utara
Dosen Pengampu: Dr. Ja’far, MA
Matakuliah: Akhlak Tasawuf
TEMA : Fakir, Sabar dan Tawakal
Buku
Identitas Buku : Dr. Jaffar, MA, Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoritis dan Praktis Ajaran Kaum Sufi (Medan: Perdana Publishing, 2016)
Sub 1: Fakir (al-faqr)
Dalam terminology Al-quran, istilah fakir berasal dari bahasa
arab, faqura, yafquru, faqran yang artinya miskin. Istilah faqr bermakna
kemiskinan (Jaffar: 68). Dalam bahasa
Indonesia, fakir berarti orang yang sangat berkekurangan. Dalam kitab Ihya’
Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa fakir itu adalah orang yang tidak
memiliki harta sama sekali. Kemudian Imam Al-Ghazali mengkasifikasikan hakikat
fakir itu dan memberinya masing-masing nama ;
- · Hal yang pertama, adalah jika orang itu diberi harta, orang itu tidak menyukainya dan orang itu merasa tersiksa dengan harta tersebut. Maka orang itu disebut zuhud
- · Hal yang kedua, ialah orang tersebut tidak menyukai harta walaupun orang itu berhasil memperoleh harta tersebut dengan penuh kesenangan. Tapi orang tersebut tidak membenci dengan harta yang diperolhnya itu, maka ia disebut rela
- · Hal yang ketiga, yaitu orang tersebut diberi harta namun tidak sampai harta tersebut menggerakkan orang itu untuk mencarinya, tapi orang itu tetap mau mengambilnya.maka sifat itu disebut qona’ah.
- · Hal yang keempat, orang tersebut lemah dalam mencari harta namun ia tetap mau mencarinya walupun dengan bersusah payah, hanya karena kerakusannya. Orang ini disebut rakus harta.
- · Hal yang kelima, orang tersebut tidak memiliki harta sama sekali kalaupun ada orang tersebut masih saja dibilang telanjang kalaupun memakai pakaian. Maka orang itu disebut ‘terpaksa’.
Sub 2: Sabar (al-shabr)
Kata sabar berasal
dari bahasa arab, sahabara, yashbiru, shabbran, maknanya adalah mengikat,
bersabar, menahan dari larangan hokum, dan menahan diri dari kesedihan. Dalam bahasa
Indonesia, sabar bermakna “tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak
lekas putus asa, tidak lekas patah hati), dan tabah tidak tergesa gesa, dan
tidak teerburu nafsu (Jaffar: 71). Allah berfirman dalam surat Al-Anfâl ayat
46:
وَاصْبِرُوْا اِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِيْنَ (الأنفال: ٤٦)
“Dan bersabarlah.
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”.
Al-ghazali membagi sabar menjadi 3:
- · Sabar dalam ketaatan kepada Allah swt.; Nafsu sering bertentangan dengan ketaatan, seperti rasa malas dalam shalat, sifat kikir dalam zakat, dan rasa malas serta kikir secara bersamaan, dalam haji dan jihad. Bersabar dalam taat, merupakan suatu perbuatan yang sangat berat dan sulit.
- · Sabar terhadap maksiat; Bersikap sabar terhadap maksiat lebih berat dan sulit lagi, apalagi terhadap maksiat yang sudah menjadi watak kebiasaan. Sebab, pasukan yang muncul untuk menghadapi dorongan-dorongan keagamaan di sini terdiri dari dua lapisan, yaitu pasukan hawa nafsu dan pasukan watak kebiasaan.
- · Sabar terhadap musibah; Seperti gangguan dari orang lain, baik itu dengan tangan atau lisan. Bersabar terhadap hal tersebut, dilakukan dengan tanpa membalas sikap tersebut kadang-kadang wajib dan terkadang juga sunnah.
Sub 3: Tawakal
(al-tawakkul)
Berasal
dari bahasa arab, wakila, yakilu, wakilan yang berarti “mempercayakan, memberi,
membuang urusan, bersandar, dan bergantung”. Dalam bahasa Indonesia, tawakal
adalah “pasrah diri kepada kehendak Allah;
percaya kepada sepenuh hati kepada allah (dalam penderitaan dan
sebagainya), atau sudah berikhtiar baru beerserah kepada allah (Jaffar: 75) Dalam
karya-karya tasawuf, para sufi telah membberikan penjelasan mengenai makna
tawakal. Hamdun al-Qashshar berkata, “tawakal adalah berpegang teguh keada
allah swt.” Sahl bbin ‘abd allah al-tustari erkata “tawakal adalah melepaskan
segala apa yang dikehendaki dengan menyandarkan diri kepada allah swt. Jadi
pengertian tawakal secara istilah adalah rasa pasrah hamba kepada allah swt
yang di sertai dengan segala daya dan upaya mematuhi, setia dan menunaikan
segala pertintahNya.
Kesimpulan :
Seseorang yang fakir
harus bisa bersabar dan bertawakal kepada allah swt. Dan kita sebbagai manusia
harus menanamkan sifat sabar yaitu dengan tidak mudah terpancing emosinya dalam
menghadapi situasi apapun, dan yang paling penting kita harus sabar dalam
menghadapi cobaan yang diberikan allah swt. Begitu juga dengan tawakal, seorang
umat muslim harus bisa tawakal dalam menghadapi situasi apapun, karena allah
tidak akan memberikan cobaan kepada umatnya melebihi kemampuan dari kita.
Relevansi dengan bidang :
Dalam bidang sistem
informasi, Seorang ahli sistem informasi harus bisa bekerja ataupun belajar
dalam bidangnya dengan memiliki sifat sabar, contohnya tidak tergesa-gesa dalam
mengambil suatu tindakan dalam membuat suatu project, dan bila project tersebut
gagal, seorang ahli sistem informasi harus tawakal dan tidak putus asa dengan
mencoba memperbaiki lagi hingga berhasil.