Identitas :
Nama : muhammad rafli hakim
Nim : 72153009
Prodi/Sem : Sistem Informasi /III
Fakultas : Sains dan Teknologi
Perguruan Tinggi : UIN Sumatera Utara
Dosen Pengampu : Dr. Ja'far, MA
Tema :Cinta, Rida, dan Maqam
Identitas Buku :
Ja’far. Gerbang Tasawuf : (Dimensi teoretis dan praktis ajaran kaum sufi. Medan : Perdana Publishing, 2016).
Sub 1 : Cinta (Mahabbah)
Menurut Al-Ghazali, al-mahabbah adalah al-maqam sebelum rida. Kaum sufi mendasari ajaran mereka tetang cinta dengan Al-Qur’an, hadis, dan atsar. Diantara dalilnya adalah Q.S. Al-maidah/5:54;Q.S.Al-Shaff/1:4;dan Q.S. Ali Imran/3 : 31. Kata cinta disebut Al-Qur’an secara berulang kali, meskipun tidak hanya dalam makna cinta kepada Allah Swt. Sebagaimana yang dimaksudkan oleh kaum sufi. Kata hub disebut Al-Qur’an sebanyak 99 kali dalam berbagai bentuk kata, antara lain hubb dan yuhibbu, sedangkan dalam kata al-mahabbah tidak digunakan Al-Qur’an.
Dalam Q.S Al-Baqarah/2 : 165, Allah Swt. Berfirman :
“dan diantara manusia ada orang-orangg yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksa-Nya (niscaya mereka menyesal)”.(Ja’far, Gerbang Tasawuf. Hal 78. 2016)
Sub 2 : Rida (Al-Ridha)
Kata rida berasal dari kata radhiya, yardha, ridhwanan yang artinya “Senang, puas, emilih, persetujuan, memilih, menyenangkan, dan menerima.” Dalam kamus bahasa indonesia, rida adalah “rela, suka, senang hati, perkenan, dan rahmat.” Kata rida dari berbagai bentuk disebut didalam Al-Qur’an sebanyak 73 kali. Menurut Ibn Qudamah, makna rida adalah seorang hamba menyadari bahwa pengaturan Allah Swt lebih baik dari pengaturan manusia; dan rida atas penderitaan, karena dibalik penderitaan ada pahala apalagi penderitaan itu bersal dari Allah Swt. Sebagai Kekasih-Nya. (Ja’far, Gerbang Tasawuf. Hal 84. 2016)
Sub 3 : Al-Maqam
Sebagian sufi menilai bahwa setelah mencapai maqam rida, seorang salik masih dapat mencapai maqam seperti makrifat (al-ma’rifah), dan menegaskan bahwa al-ridha bukan mawam tertinggi. Al-Kalabazi mengatakan bahwa al-ridha bukan maqam tertinggi. Al-Kalabazi mengatakan bahwa sebagian sufi membagi makrifat menjadi dua, yakni al-ma’rifat haq yang berarti penegasan keesaan Allah atas sifat-sifat yang dikemukakan-Nya, dan ma’rifat haqiqah yang bermakna makrifat yang tidak bisa dicapi dengan sarana apapun, sebab sifat-Nya tidak dapat ditembus dan ketuhanan-Nya tidak dapat dipahami. Menurutnya, makrifat bermakna “hati (al-sirr) menyaksikan kekuasaan Allah Swt. (Ja’far, Gerbang Tasawuf. Hal 78. 2016)
Kesimpulan
Cinta dan Rida merupakan bagian dari hirarki al-maqamat. Cinta merupakan kasih sayang Allah kepada hambanya ., sedangka rida merupakan keihklasan Allah Swt dalam menerima perbuatan hambanya dan juga memilih hambanya yg patuh terhadap Nya. Dan al-maqam (makrifah) merupakan ilmu yang mempunyai derajat tertinggi
Relevansi dengan bidang :
Sebagai mahasiswa saintek kita harusnya mempunyai pemikiran intelektual dan mempunyai sifat cinta (mahabbah), rida, dan mawam. Bukan hanya sekedar punya itu, tapi diantara sebaiknya kita juga harus menerapkan sifat-sifat tersebut dalam keseharian kita karena Allah sangat mencintai hambanya yg patuh kepada-Nya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar