Minggu, 18 Desember 2016

Biografi Nasrudin Hoja

Nama : Muhammad Rafli Hakim
NIM : 72153009
Prodi/sem : Sistem Informasi 2/III
Fakultas : Sains dan Teknologi
Perguruan Tinggi : UIN Sumatera Utara
Dosen Pengampu : Dr. Ja'far MA
Mata Kuliah : Akhlak Tasawuf

Biografi Nasrudin Hoja
Nama lengkapnya merupakan syahabuddin Yahya bin Hafasi bin Amirek Suhrawadi. Ia dilahirkan pada tahun 549 H/1153 M di sebuah desa yang bernama Suharwardi dekat kota zahjan sebelah utara persia. Beliau mendapat gelar al-Maqtul. sebab ia meninggal karena dibunuh atas suruhan al-Malik al-Zahir (raja Aleppo dan Siria Utama). Keputusan pembunuhan atas dirinya diambil karena ajaran tasawufnya dipandang telah menyeleweng dari rel Islam. Julukan lain yang sering dinisbatkan kepadanya adalah Syaikh al-Isyraq (Guru Illuminasi). Suhrawardi menjalani masa studinya pada beberapa guru di beberapa tempat. Majd al-Din al-Jili adalah gurunya yang pertama, yang mengajarinya filsafat dan teologi di Maragha. Selain itu, ia diajar pula Fakhr al-Din al-Mardini (w. 594/1198), yang juga mengajar di Isfahan atau Mardin. Orang inilah yang diduga sebagai gurunya yang terpenting. Al-Mardini berada di wilayah Aleppo, sesaat Suhrawardi dieksekusi peristiwa yang telah ia prediksikan sebelumnya tetapi sejauh ini tidak diketahui apakah ia punya peran, positif atau negatif, dalam intrik yang membawa ke pengadilan dan selanjutnya pembunuhan atas Suhrawardi. Al-Mardini merupakan orang sezaman dengan Abu al-Barakat al-Bahgdadi (w. 560/1164), seorang pengikut aliran anti Aristoteles yang terkenal. Ia juga murid dari Baghdadi yang lain dan menjadi rivalnya di Baghdad. Karena hal ini dan sekian alasan lain, al-Baghdadi termasuk salah seorang dari sedikit filsuf sezaman yang disebut-sebut Suhrawardi. Baik Suhrawardi maupun al-Baghdadi dalam persoalan filsafat yang mendasar sama-sama memberi peran penting kepada intuisi dalam bangunan filsafat. Menurut Hossein Ziai, struktur karya filosofis al-Baghdadi, Evidential (al-Mu’tabar), juga terefleksi dalam karya-karya filosofis Suhrawardi. Bagi Ziai, ini membuktikan al-Baghdadi semestinya dipandang sebagai satu sumber langsung yang penting bagi banyak pendekatan non-peripatetik Suhrawardi terhadap persoalan filsafat. Al-Baghdadi, sebagaimana Suhrawardi, mengklaim bahwa magnum opus-nya, al-Mu’tabar, merupakan gubahan tentang dasar refleksi pribadi. Keduanya mengakui bahwa kepastian intuisi punya validitas yang sama dengan kepastian penalaran dan persepsi inderalah yang diterima oleh kaum Peripatetik. Guru Suhrawardi yang lain adalah Zahir al-Farsi (Nasr menyebutnya Zahiruddin al-Qari), dari tokoh ini ia belajar tentang pengamatan (al-Basha’ir). Juga belajar dari seorang ahli logika ternama, ‘Umar ibn Sahla al-Sawi (w. 540/1145), salah seorang dari filsuf yang namanya disebut-sebut oleh Suhrawardi, khususnya dalam kaitan dengan permasalahan-permasalahan tertentu logika yang rumit. Setelah menyelesaikan studinya, Suhrawardi melakukan perjalanannya ke Iran. Di sana ia menemui sejumlah syekh sufi dan sangat tertarik sebagian dari mereka. Pada kenyataannya, ia memasuki lingkaran kehidupannya melalui jalan sufi dan cukup lama berkhalwat dalam mempelajari dan menekuninya. Perjalanannya secara bertahap meluas hingga mencapai Anathole dan Suriah yang pemandangan alamnya memukau. Pernah dalam perjalanannya, ia pergi dari Damaskus ke Aleppo untuk menemui Malik Zahir, putera Salah al-Din al-Ayyubi yang terkenal. Malik yang punya kecintaan khusus kepada para sufi dan sarjana, menjadi tertarik kepada pemikir muda Suhrawardi, lalu mengundangnya untuk tinggal di istana. Suhrawardi yang sudah sangat menyukai daerah ini, dengan senang hati menerima undangan tersebut dan tinggal di istana. Akan tetapi karena caranya yang oensif dan kekurang hati-hatiannya dalam menyebarkan doktrin-doktrin esoterik dihadapan semua jenis audiens; intelegensinya yang tajam yang memungkinkannya untuk mengalahkan lawan-lawannya dalam berdebat dan kepiawaiannya baik dalam filsafat diskursif maupun sufisme, membuatnya banyak dimusuhi orang, terutama di kalangan para ulama hukum (fuqaha). Belakangan, ulama-ulama tersebut menuntut kepada Malik Zahir, agar menjatuhi hukum mati terhadap Suhrawardi karena terbukti menyebarkan doktrin-doktrin yang bertentangan dengan agama. Malik awalnya menolak. Maka mereka melanjutkan tuntutannya kepada Salah al-Din al-Ayyubi secara langsung. Pada saat itu Suriah telah terbebas dari tentara Salib, sementara dukungan ulama merupakan satu hal penting bagi kekuatan Sultan Salah al-Din. Karena desakan mereka terus menerus, akibatnya Sultan mengabulkan tuntutan mereka itu. Malik dipaksa untuk melaksanakannya. Lalu kekuasaan eksekutif keagamaan mengakhiri hidup pemikir muda yang cemerlang itu dengan memenjarakannya. Dan ketika ia meninggalkan penjara, ia wafat tanpa sebab yang dapat diterangkan sebagai penyebab langsung kematiannya pada 587/1191. Demikianlah Syaikh al-Isyraq menerima nasibnya pada usia 38 tahun, sebagaimana yang diterima pendahulunya, al-Hallaj, yang cukup menarik baginya ketika masa hidupnya, dan ia sendiri banyak mengutip ucapan-ucapan al-Hallaj dalam buku-bukunya.

Referensi : Dr. Faisar Ananda Arfa, MA , Bangun dan Hanum, 2015: 286-287

Akhlak Tasawuf: INTEGRASI DALAM SEJARAH ISLAM

IDENTITAS
            Nama                           : Muhammad Rafli Hakim
            NIM                             : 72153009
            Prodi/Sem.                   : Sistem Informasi-2 / III
            Fakultas                       : Sains dan Teknologi
            Perguruan Tinggi          : UIN Sumatera Utara
            Dosen Pengampu         : Dr. Ja’far, MA
            Matakuliah                   : Akhlak Tasawuf

TEMA                                     : Integrasi Tasawuf dan Sains
           
BUKU                                                
Identitas Buku                    : Ja’far, Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoretis dan Praktis Ajaran Kaum                                                    Sufi(Medan: Perdana Publishing, 2016)

Sub 1 : Integrasi Dalam Sejarah Islam
Dalam sejarah intelektual klasik, budaya integrasi keilmuan telah dikenal dan dikembangkan dengan canggih. Dalam sejarah islam, ditemukan seorang ahli astronomi, ahli biologi, ahli matematika, dan ahli arsitektur yang mumpuni dalam bidang ilmu-ilmu keislaman seperti tauhid, fikih, tafsir, hadis, dan tasawuf, para pemikir muslim klasik menempuh pola hidup statistic, dan kajian-kajian ilmiah mereka arahkan kepada pencapaian tujuan-tujuan religious dan spiritual.
Para filsuf dari mahzab peripaterik merupakan pemikir muslim yang berhasil mengintegrasikan filsafat yunani dengan ajaran islam yang bersumberkan kepada al-qur’an dan hadis, tidak sebatas integrasi belaka, mereka malah mampu menguasai berbagai disiplin ilmu yang terdiri atas ilmu-ilmu rasional dan ilmu-ilmu kewahyuan, sehingga integrasi menjadi sangat mudah dilakukan. Selain dari mahzab peripatetic, sejarah islam menyebutkan keberadaan para filsuf dari mahzab isyraqiyah dan mahzab hikmah al-muta’aliyah yang sukses mengintegrasikan ilmu-ilmu rasional dengan ilmu-ilmu kewahyuan. Diantara mereka adalah Suhrawardi (w.1191) yang dikenal ahli filsafat,tasawuf, dan hokum islam. Quthb al-Din al-Syirazi (w.1311) cukup dikenal sebagai ahli dalam bidang astronomi, matematika, kedokteran, fisika, music, filsafat, dan tasawuf. Dengan demikian, integrasi ilmu dalam islam bukan yang baru. Sebab, para ilmuan muslim klasik telah mengerjakan proyek keilmuan tersebut sepanjang masa keemasan islam. Paling tidak, secara akademik mereka menguasai seluruh disiplin ilmu yang berkembang pesat pada masa mereka, baik ilmu-ilmu rasional, ilmu-ilmu empiric, maupun ilmu-ilmu kewahyuan, mereka bahkan mengintegrasikan kedua jenis ilmu tersebut, dan keduanya saling mendukung kegiatan akademik mereka. Meskipun mereka seorang filsuf dan saintis, perilaku hidup mereka merupakan realisasi terhadap teori bahwa mereka sukses mengintegrasikan antara dua jenis ilmu tersebut, dan mengintegrasikan keduanya dengan keyakinan dan perilaku hidup mereka sehari-hari. (DR.Ja’far,MA.Gerbang Tasawuf.Hal 102-105-2016)

KESIMPULAN
       Dalam sejarah intelektual klasik, budaya integrasi keilmuan telah dikenal dan dikembangkan dengan sangat canggih, Sebab, para ilmuan muslim klasik telah mengerjakan proyek keilmuan tersebut sepanjang masa keemasan islam. Paling tidak, secara akademik mereka menguasai seluruh disiplin ilmu yang berkembang pesat pada masa mereka, baik ilmu-ilmu rasional, ilmu-ilmu empiric, maupun ilmu-ilmu kewahyuan.

RELEVANSI DENGAN BIDANG    :
           kita harus bersungguh-sungguh dalam belajar dan memiliki memiliki pola pikir seperti para pemikir ilmuwan muslim klasik baik dari mazhab peripatetic, mazhab isyaraqiyah maupun mazhab hikmah al-muta’aliyah yang berlandaskan alquran dan hadits, agar kelak nantinya kita bisa menjadi seperti para ilmuan muslim.yang nantinya dapat  mengintegrasikan antara dua jenis ilmu yaitu agama dan teknologi.

Minggu, 04 Desember 2016

Cinta ridha dan maqam

Identitas :
Nama                     : muhammad rafli hakim
Nim                       : 72153009
Prodi/Sem              : Sistem Informasi /III
Fakultas                 : Sains dan Teknologi
Perguruan Tinggi    : UIN Sumatera Utara
Dosen Pengampu    : Dr. Ja'far, MA

Tema :Cinta, Rida, dan Maqam
Identitas Buku :
Ja’far. Gerbang Tasawuf : (Dimensi teoretis dan praktis ajaran kaum sufi. Medan : Perdana Publishing, 2016).

Sub 1 : Cinta (Mahabbah)
Menurut Al-Ghazali, al-mahabbah adalah al-maqam sebelum rida. Kaum sufi mendasari ajaran mereka tetang cinta dengan Al-Qur’an, hadis, dan atsar. Diantara dalilnya adalah Q.S. Al-maidah/5:54;Q.S.Al-Shaff/1:4;dan Q.S. Ali Imran/3 : 31. Kata cinta disebut Al-Qur’an secara berulang kali, meskipun tidak hanya dalam makna cinta kepada Allah Swt. Sebagaimana yang dimaksudkan oleh kaum sufi. Kata hub disebut Al-Qur’an sebanyak 99 kali dalam berbagai bentuk kata, antara lain hubb dan yuhibbu, sedangkan dalam kata al-mahabbah tidak digunakan Al-Qur’an.
Dalam Q.S Al-Baqarah/2 : 165, Allah Swt. Berfirman :
“dan diantara manusia ada orang-orangg yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksa-Nya (niscaya mereka menyesal)”.(Ja’far, Gerbang Tasawuf. Hal 78. 2016)

Sub 2 : Rida (Al-Ridha)
Kata rida berasal dari kata radhiya, yardha, ridhwanan yang artinya “Senang, puas, emilih, persetujuan, memilih, menyenangkan, dan menerima.” Dalam kamus bahasa indonesia, rida adalah “rela, suka, senang hati, perkenan, dan rahmat.” Kata rida dari berbagai bentuk disebut didalam Al-Qur’an sebanyak 73 kali. Menurut Ibn Qudamah, makna rida adalah seorang hamba menyadari bahwa pengaturan Allah Swt lebih baik dari pengaturan manusia; dan rida atas penderitaan, karena dibalik penderitaan ada pahala apalagi penderitaan itu bersal dari Allah Swt. Sebagai Kekasih-Nya. (Ja’far, Gerbang Tasawuf. Hal 84. 2016)

Sub 3 : Al-Maqam
Sebagian sufi menilai bahwa setelah mencapai maqam rida, seorang salik masih dapat mencapai maqam seperti makrifat (al-ma’rifah), dan menegaskan bahwa al-ridha bukan mawam tertinggi. Al-Kalabazi mengatakan bahwa al-ridha bukan maqam tertinggi. Al-Kalabazi mengatakan bahwa sebagian sufi membagi makrifat menjadi dua, yakni al-ma’rifat haq yang berarti penegasan keesaan Allah atas sifat-sifat yang dikemukakan-Nya, dan ma’rifat haqiqah yang bermakna makrifat yang tidak bisa dicapi dengan sarana apapun, sebab sifat-Nya tidak dapat ditembus dan ketuhanan-Nya tidak dapat dipahami. Menurutnya, makrifat bermakna “hati (al-sirr) menyaksikan kekuasaan Allah Swt. (Ja’far, Gerbang Tasawuf. Hal 78. 2016)

Kesimpulan
Cinta dan Rida  merupakan bagian dari hirarki al-maqamat. Cinta  merupakan kasih sayang Allah kepada hambanya ., sedangka rida merupakan keihklasan Allah Swt dalam menerima perbuatan hambanya dan juga memilih hambanya yg patuh terhadap Nya. Dan al-maqam  (makrifah) merupakan ilmu yang mempunyai derajat tertinggi

Relevansi dengan bidang
 :
Sebagai mahasiswa saintek kita harusnya mempunyai pemikiran intelektual dan mempunyai sifat cinta (mahabbah), rida, dan mawam. Bukan hanya sekedar punya itu, tapi diantara sebaiknya kita juga harus menerapkan sifat-sifat tersebut dalam keseharian kita karena Allah sangat mencintai hambanya yg patuh kepada-Nya