ALHLAK TASAWUF
Nama: Muhammad Rafli Hakim
NIM: 72153009
Prodi.Sem: Sistem Informasi-2/III
Fakultas: Sains dan Teknologi
Perguruan Tinggi: UIN Sumatera Utara
Dosen Pengampu: Dr. Ja’far, MA
Mata Kuliah: Akhlak Tasawuf
TEMA: Epistemologi Tasawuf
BUKU
Identitas Buku: Ja’far, Gerbang
Tasawuf: Dimensi Teoretis dan Praktis Ajaran kaun sufi (Medan : Perdana Publishing, 2016)
Sub 1: Peran Hati dalam
Tasawuf
Istilah hati tersebut berulang kali dalam
Al-qur’an dan hadis, yang biasanya disebut dengan kata qalb, al-fuad, atau
af’idah. Dalam tradisi Islam, hati
(qalb) merupakan subsistem jiwa manusia. Ahmad Mubarok telah menemukan konsep
Alquran tentang fungsi, potensi, kandungan, dan kualitas hati manusia. Disebutkan bahwa ada delapan potensi hati,
yakni hal itu bisa berpaling; merasa kecewa dan kesal; sengaja memutuskan untuk
melakukan sesuatu; berprasangka;menolak sesuatu;mengingkari;dapat diuji;dapat
ditundukkan;dapat diperluas dan di persempit; bahkan bisa ditutup rapat. Adapun
kandungan hati manusia adlah penyakit.
Mayoritas sufi menilai bahwa akal
manusia tidak mamou mencapai hakikat Allah Swt.,dan Alquran menjelaskan bahwa
kelemahan akal bisa ditutupi oleh hati yang damai. Jadi hati yang damai mampu
datang dan menghadap pada Allah Swt. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa hati
menjadi standar baik dan buruk jasmani
manusia. Nabi Muhammad Saw bersabda; “kaya itu bukanlah karena harta, tetapi
kaya itu adalah kaya hati”. Hati sebagai sarana intuk menemukan ilmu lebih
banyak dibahas oleh kaum sufi dalam berabagai karya mereka.
Al-Ghazali menjelaskan bahwa hati
bermakna ganda. Pertama, hati adalah “Daging yang diletakkan didalam dada
sebelah kiri. Dalam daging trsebut terdapat lubang, dan dalam lubang tersebut
terdapat darah berwarna hitam yang menjadi sumber ruh. Kedua, “sesuatu yang halus, bersifat
ketuhanan, ruhani, dan memiliki kaitannya dengan ruh. Hati ini merupakan
hakikat manusia. Jadi hati terdiri atas dua bentuk, yakni hati yang bersifat
jasmani dan hati yang bersifat ruhani.
Sub 2: Metode Tazkiyah
al-Nafs
Kaum sufi meyakini bahwa
akal manusia masih memiliki kelemahan. Akal tidak mampu mMenyaksikan realitas
spiritual, atau merumuskan knsepibadah yang di inginkan Tuhan, akan tetapi akal
mampu memberikan buktu rasional bagi eksistensi Tuhan dan alam malaikat, atau
merumuskan daya-daya psikologi manusia, dan membuktian keputusan hari kiamat
akan terjadi. Adapun keutamaan tazkiayh al-nafs
menurut al-quran bahwa pelakunya disebut sebagai orang-orang beruntung
dan orang-orang tersebut diberi pahala serta keabadian surgawi.
Metode ‘irfani’ merupakan
metode kaum sufi dalam Islam yang mengandlkan kativitas penyucian jiwa untuk
mendekatkan diri pada Allah Swt., dan menilai bahwa llmu hakiki hanya diraih
dengan cara mendekatkan diri kepada sosok yang Maha Mengetahui, bukan dengan
metode oservasi dan eksperimen atau juga metode rasional. Dalam al-Munqizh min
al-Dhalal, al-Gazali menyatakan bahwa kaum sufi mampu meraih musyahadah dan
mukasyafah, sehingga mereka akan mampu menyaksikan dan mendengar suara-suara
para malaikat dan ruh-ruh para nabi dengan hati mereka. Merutunya seorang sufi
hanya mampu meraih ma’rifah sebagai maqam paling tinggi. Al-ghazali tidak
merasa puas dengan metode ketiganya, dan merasa gagal menemukan kebenaran,
sampai akhirnya menemukan mazhab kaum sufi
dan metode tasawuf yang dapat diandalkan dalam menemukan kebenaran,
serta menjauhkan diri dari keraguan. Ibn
al-Qayyim al-Jauziyah menyebut ilmu yang diraih oleh kaum sufi sebagaim ‘ilm
laduniyun, yakni ilmu yang disyaratkan kepada ilmu yang diperoleh seorang hamba
tanpa menggunakan sarana, tetapi berdasarkan ilham dari Allah, dan
diperkenalkan Allah kepada hamba-Nya.
KESIMPULAN
Dijelaskan dalam al-qur’an
bahwa kandungna hati manusia terdapat banyak sekali macam-macam penyakit hati.
Manusia memiliki banyak penyakit hati
baik dari positif maupun yang negatif, dan islam mengajarkan agar mempunyai
sifat hati positif dan menjauhi sifat hati yang negatif. Serta al-qur’an juga
menjelaskan bahwa kelemahan akal bisa di tutupi dengan hati yang damai.
RELEVANSI DENGAN BIDANG :
Sebagai Jurusan Sistem
Informasi kita walaupun tidak terlalu ahli dalam bidang IT ini dan juga tidak
terlalu cerdas, maka janganlah menyombongkan diri denga ilmu yang dimiliki,
bahkan Seorang IT yang sangat pintar sekalipun tetepi kalau dia sombong tidak
akan mendamaikn kedamaian hati, tetapi sebaliknya jika seorang tersebut tidak
terlalu cerdas jika memiliki hati yang bersih dan suci maka kekurangannya kan
ditutupi oleh hati yang bersih tersebut.